Bait Perasaan untuk Kedamaian


LIMA tahun terakhir aktif menulis puisi, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Abd Haris, M.Ag kini punya tujuh buku antologi sajak maupun puisi. Melalui puisi, Haris menebar kedamaian dengan untaian kata. Pesan agama selalu disiratkannya. Haris pun telah menulis lebih dari 700 puisi.
Hobi menulis puisi sejatinya berawal sejak kecil. Ia gemar membaca buku-buku sastra, khususnya tulisan Hamka di majalah. Hal itu juga didukung sang kakak yang berprofesi sebagai guru dan berlangganan majalah Panji Masyarakat.
"Karena kakak langganan majalah jadi sering baca puisi, terutama puisi-puisi Arab yang mewarnai hampir semua kehidupan seorang santri. Bahkan salawat juga bentuk puisi dalam bahasa arabnya syiir," ujar Haris.
Ketika menulis dan membaca puisi ada rasa senang tersendiri. Karena mengandung seni luar biasa indah. Terdiri dari sajak yang senada membuat siapapun yang mendengarnya merasa tenang. Bahkan puisi nyaris sama dengan ayat di dalam Alquran, misalnya dalam surat Al-Ikhlas yang ayat-ayatnya diakhiri dengan huruf Dal.
Salawat, syiir dari Bahasa Arab akan jauh lebih indah saat disenandungkan dan dinikmati. Ini memberi inspirasi bagi  Haris untuk semakin bersemangat menulis. Baginya puisi adalah kebutuhan untuk menyampaikan ide-ide, gagasan, serta menarasikan kondisi objektif kehidupan dari berbagai aspek. Hal tersebut dinilainya sangat efektif karena di dalam puisi mayoritas menggunakan kalimat singkat. Namun sudah menggambarkan perasaan atau pesan yang ingin disampaikan.
"Puisi adalah seni. Dari situ kita mendapat keindahan dan setiap puisi yang saya tulis bersifat natural," katanya.
Semua puisi karangan Haris ditulis secara natural tanpa memetakan satu atau dua tema tertentu. Namun ia memperkuat dengan perspektif agama. Seperti yang Nabi Muhammad SAW katakan bahwa Allah SWT sangat indah dan mencintai keindahan.
Sebagai manusia ciptaan-Nya, Haris ingin senantiasa menjadi indah baik dalam berkata, bersikap maupun berkehidupan. Melalui puisi ia ingin menuangkan kebaikan, tidak menyakiti orang, dan memberikan peluang kepada orang lain. Tujuannya  agar berkembang dan memotivasi melakukan yang terbaik dalam hidupnya.
Ia suka menulis puisi apa saja tidak terbatas dengan satu tema, dimana dan kapan saja setiap ide menulis datang. Bahkan kerap menulis puisi yang menggambarkan sosok kebaikan dari para tokoh nasional seperti Bung Karno, Soeharto, Megawati Soekarno Putri, Susilo Bambang Yudhoyono, Gus Dur, hingga Jokowi.
"Hampir semua yang saya anggap bagus pasti berpuisi yang isinya tentang kebaikan. Juga pernah menulis puisi untuk Malang Post," terang pria berkacamata ini.
Haris dalam menuangkan idenya tak terbatas tempat. Bisa dimana saja selagi ada ide dan pikiran, pasti digunakannya untuk menulis. Tak butuh waktu lama, satu puisi bisa dirangkainya dalam beberapa menit.
Banyak kalangan menyarankan dia menulis puisi lebih ringkas dan pendek. Namun Haris tidak bisa lantaran semua tulisannya bercirikan natural sedapatnya ide.
Menurutnya dari natural itulah, tidak terlalu berkaitan dengan kaidah-kaidah puisi. Sekarang semua karyanya dieditnya terlebih dahulu, berbeda dari sebelumnya tanpa edit sama sekali.
Dari total tujuh buku karya Haris, rencananya akan diterbitkan kembali dengan format berbeda. Yakni dengan menjadikannya menjadi satu buku setebal 1.200 halaman. "Semua tema saya tulis, hanya saja yang lebih sering bertemakan religius," jelasnya.
Baginya yang terpenting adalah menulis, respon pembaca menjadi nomor kesekian baginya. Haris  tidak membayangkan akan di baca siapa atau dari kelompok atau kalangan mana. Karena prioritasnya menuangkan perasaan dan wawasan.
Dari sekian banyak puisinya, yang berkesan terkait religius atau berkaitan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan untuk kritikan, ia berusaha menghindari agar tidak terjadi konflik, terlebih ia mengedapankan cinta damai.
"Sehingga saya jarang sekali menulis puisi terkait kritik sosial, karena saya ingin memperkuat perdamaian," jelasnya.
Puisi-puisi karya Haris mulai dibukukan sejak tahun 2013 dengan rata-rata per buku terdiri dari 70 hingga 150 judul puisi. Meski demikian ia tidak menargetkan setiap hari harus menulis puisi karena datangnya kreativitas bisa kapan pun dan dimana saja.
"Saya tidak mengandaikan waktu kreatif itu ada, karena bisa kapan saja dan dimana saja serta respon yang beragam," tandasnya. (lin/van)

Berita Lainnya :