Bayu Suryo Kusumo, Dalang Muda yang juga Mahasiswa UM

MALANG - Dalang-dalang muda berbakat terus lahir dari Kota Malang. Salah satunya Bayu Suryo Kusumo, mahasiswa prodi S1 Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang (UM).
 “Saya menjadi dalang sejak umur tiga tahun.
 
Dulu waktu kecil Ayah mengajari, juga ada guru saya yang sejak saya kecil sampai sekarang ini terus mendampingi,” ujar Bayu kepada Malang Post.
Mahasiswa yang pernah menyabet juara 1 lomba Dalang Jawa Timur ini mempunyai tokoh dalang idola yakni Ki Purbo Asmoro, S. Kar., M.Hum. dan Ki Sukron Suwondo. Menurutnya, mereka merupakan sosok panutan.
“Mereka itu dalang sekaligus seniman yang handal, bisa bermasyarakat dan semua sukses di bidang karir dan seni. Mereka semua selalu berinovasi dan berkarya baru tanpa meninggalkan tradisi atau pakem yang ada,” ungkapnya.
Pria kelahiran Malang 21 Juni 1996 ini mengungkapkan, saat mendalang, ia memainkan segala jenis pewayangan. Wayang kulit, golek, kancil, dan wong pernah dimainkannya. Tokoh yang ia sukai dalam pewayangan yakni Gatotkaca dan Abimanyu.
“Mereka itu satria pilih tanding, satria hebat, tangkas dan cerdas. Bisa menjadi tonggak negara walaupun masih muda,” ujarnya.
 
Mahasiswa yang mempunyai hobi memancing ini menuturkan, bahwa ukuran berat wayang sangat memengaruhi teknik memerankan setiap tokoh wayang, karena berat wayang menentukan kadar kecepatan sabet.
Di bulan puasa ini, ia mengungkapkan bahwa  ia sudah dua kali mendalang. Untuk bulan Juli, ia sudah ada jadwal mendalang di Malang, Surabaya, Semarang, Solo, dan Jakarta. Untuk persiapannya, ia latihan rutin setiap hari agar bisa kompak denga pemain musiknya.
Mahasiswa yang pernah menjadi pemenang lomba nembang se-Jawa ini menurutnya, dalam mendalang harus mengerti permintaan pasar/permintaan penonton dan menyesuaikan tradisi dengan zaman modern saat ini.
Saat ini, Bayu dan teman-temannya sudah mempunyai sanggar sendiri yang bernama Sanggar Seni Singamulangjaya dan tergabung dalam Gatra UM. Ia juga gabung di sanggar seni kota Batu yang bernama Sarkara.
Mahasiswa yang pernah meraih juara 1 lomba Campur Sari Se-Jawa Timur dan Jawa Tengah ini mempunyai motivasi dalam seni yakni tetap terus berkarya, menjaga kebudayaan bangsa agar tetap terjaga, karena benteng terakhir bangsa adalah budaya.
“Bolehlah kita menerima seni dan budaya asing yang masuk, tetapi budaya dan seni asli milik kita jangan ditinggalkan, pungkas mahasiswa yang pernah menyabet juara 2 lomba Dalang Remaja Jawa Timur ini. (mg4/oci)

Berita Lainnya :