Bikin Sejarah di Unisma


Dr. Ir. Hj. Istirochah Pujiwati, MP bikin sejarah di Universitas Islam Malang (Unisma). Ia merupakan wakil rektor perempuan pertama di perguruan tinggi itu. Sepanjang menapak karir di dunia akademik, wakil rektor IV ini memaknai semangat Kartini dengan prestasi. Namun tanpa melupakan kodrat seorang perempuan.
"Di Unisma baru tahun 2019 ada wakil rektor perempuan, ini juga menjadi tonggak sejarah dan memacu semangat kita para kaum perempuan untuk berprestasi," kata Isti, sapaan akrab  
Hj. Istirochah Pujiwati yang dilantik menjadi Wakil Rektor IV Unisma pada 1 Februari 2019 lalu.
Sebelum menjabat sebagai wakil rektor IV, Isti merupakan kepala Biro Administrasi Akademik dan Kerja Sama Unisma. Dia mengemban jabatan itu selama delapan tahun. Diberikan amanah tugas baru, ia optimis terus memberikan yang terbaik bagi kemajuan kampusnya.
"Unisma  perguruan tinggi nomor lima di Jatim sudah  mendudukkan perempuan dengan ditempatkan dalam posisi yang setara dengan kaum laki-laki. Ini memacu kita untuk terus berprestasi dan mengembangkan Unisma," paparnya.
Keberhasilannya saat ini dibangun berdasarkan prinsip pendidikan penting untuk semua orang, termasuk perempuan. Ia menempuh pendidikan S1 di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB)  dengan perjuangan yang tak mudah, lantaran tidak mendapat izin dari sang ayah.
Awal menjadi mahasiswa baru, Isti mulai mandiri. Ia mengajar teman-temannya yang kaya. Hasil jerih payahnya itu digunakan digunakan membayar SPP semester pertama. Selanjutnya Isti berhasil memperoleh beasiswa Supersemar. Hasil memuaskan dan membanggakan saat lulus S1. Dia meraih prestasi sebagai lulusan terbaik. Karena keberhasilannya, orang tuanya duduk di jajaran VIP saat wisuda.
"Saya kuliah sejak S1 hingga S3 semuanya beasiswa. Masuk Unisma tahun 1992, tahun 1995 mendapat beasiswa S2 dari Bank Dunia, kemudian tahun 2014  mendapat beasiswa S3 dari Kemenristekdikti," terang dosen di Fakultas Pertanian ini.
Dalam menjalankan tugasnya, perempuan yang menyandang lulusan terbaik dengan IPK 3.97 S3  UB ini berprinsip bekerja tanpa pamrih. Mencurahkan tenaga dan pikiran untuk kemajuan lembaga tempatnya mengabdi. Sebagai dosen juga memegang teguh Tri Dharma Pendidikan. Yakni  mengajar, melakukan penelitian dan pengabdian masyrakat.
Sebagai wakil rektor yang membidangi Kelembagaan, Publikasi dan Teknologi Informasi,
perjuangan Isti sangat luar biasa. Sebab mengemban tugas berat untuk mengembangkan institusi. Mendirikan program studi baru, mengawal dan meningkatkan akreditasi dari yang awalnya B ke A termasuk instutusinya.
Selain itu penerimaan mahasiswa baru juga menjadi tugasnya. Tidak hanya memperbanyak kuantitas namun harus mampu menyerap mahasiswa berkualitas. Di era revolusi industri 4.0 juga menuntutnya mengembangkan teknologi informasi, agar Unisma ke depan bisa berbasis sistem IT andal.  Sehingga semua proses di kampus berlangsung secara efektif dan efisien.
Menghadapi persaingan di era ini, ia harus berlari lebih cepat agar Unisma tidak kalah dengan perguruan tinggi lain. Meningkatkan kreativitas dosen baik dari penelitian maupun karya ilmiah. Sehingga tercipta sumber daya manusia yang mampu bersaing secara global.
"Saya bekerja berdasarkan tupoksi, menunjukkan peran, termasuk bagaimana memperoleh mahasiswa yang berkualitas dan di bidang kelembagaan di pacu agar bisa terakreditasi A," papar kelahiran Malang 24 Februari 1968 ini.
Meski seorang perempuan sukses berkarir, namun tetap harus menyadari bahwa imam tetaplah laki-laki. Menghormati laki-laki terlebih suami karena ridho suami akan menjadi amalan baik bagi perempuan.
Sebagai istri, ibu sekaligus wanita karir, Isti tidak pernah merasa terbebani. Semua berjalan seimbang. Terlebih dua orang anaknya sudah besar sehingga tidak terlalu terikat di rumah.
Dalam keluarganya juga mengutamakan gotong royong. Sehingga dalam kehidupan rumah tangga berjalan lancar dan seimbang. Bahkan suami dan anak-anaknya mendukung penuh karirnya.
"Sering saya sampaikan kepada anak-anak bahwa perempuan harus mengaktualisasikan dirinya agar dihargai oleh laki-laki. Namun jangan lupakan kodrat kita sebagai wanita, laki-laki adalah imam yang harus dipatuhi," jelasnya.
Sebagai seorang ibu, ia sangat konsen dalam membekali anak-anaknya melalui pendidikan yang baik, memiliki integritas agar tidak diremehkan laki-laki. Tak kalah pentingnya yakni membekali dari segi agama. Sebab sebagai wanita karir yang memiliki jadwal padat di lingkungan kerjanya, ia tidak bisa memantau anak-anaknya 24 jam. "Dengan agama yang baik mereka memahami bahwa Allah SWT akan memantu gerak geriknya setiap saat," tandasnya.
Sebagai manusia ia akan terus berbuat yang terbaik. Bertugas sebagai dosen sekaligus pejabat struktural.  Tekad Isti tetap melakukan penelitian dan pengabdian serta menulis buku. Manajemen waktu menjadi kunci keberhasilan baginya. (lin/van)