Cerpen dari Kearifan Lokal


NAMA pena Ajun Nimbara familiar bagi pecinta sastra di Malang. Dia merupakan generasi muda yang telah menghasilkan puluhan karya sastra. Sudah menasional pula. Namun siapa sangka, kesukaannya menulis belum dilalui sampai sepuluh tahun. Ahmad Junaidi, nama asli Ajun Nimbara baru mulai aktif menulis setelah melalui fase banting setir. Yakni dari bergelut di bidang eksakta menuju sastra.
Namanya melejit beberapa tahun terakhir melalui karya fiksi, baik cerpen maupun puisi. Empat karya antologi bersama telah diluncurkan dengan penulis lain. Yakni Rumah dan Waktu, Secangkir Kontradiksi, Orang-orang Dalam Upacara dan Tubuh Buyut.
Ajun Nimbara mulai menulis sekitar tahun  2012 lalu. Ketika itu masih sekolah di SMAN 3 Pamekasan. "Saya baru menulis kelas 2 SMA. Itu pun hanya dimuat di majalah sekolah. Sebab saat SMA, saya ini anak yang cenderung introvert, dan belajar ilmu eksakta. Saya ambil jurusan IPA," papar Ajun mengawali cerita.
Dia masih ingat, karya fiksi yang pertama kali dibaca  adalah Negeri Lima Menara. Saat kuliah akhirnya mencoba belajar di jurusan yang disukai. Dia mengambil jurusan sastra di Universitas Negeri Malang (UM). Ini menambah literasi dirinya di karya sastra. Tentu saja, menambah pengetahuan dan memacu adrenalin untuk menghasilkan karya.
"Tetapi karyanya tidak hanya fiksi. Saya coba ikut lomba esai. Saya juga coba ikut lomba cerpen, eh juara. Lalu coba-coba kirim ke media lokal atau nasional," paparnya.
Bungsu dari dua bersaudara ini, suka karya sastra yang akhirnya memengaruhinya dalam berkreativitas. Sebagian besar karyanya, tercipta karena melihat kearifan lokal. Lalu dituangkan dalam bentuk cerpen atau puisi.
"Misalnya tentang kebiasaan di Madura  atau di Malang. Seperti Karapan Sapi, atau kegemaran orang toto gelap. Saya tuangkan dalam cerita, yang itu berawal dari fenomena," urai pemuda pecinta traveling ini.
Ajun mengakui karyanya lebih berat dari sekadar teenlit atau kisah-kisah remaja. Menurutnya, hal itu dipengaruhi karena dirinya juga suka dengan hal serius. Hanya saja, itu dia tuangkan dalam karya sastra.

Berita Lainnya :