Dosen Kolektor Barang Lawas


TAMPIL rapi dengan celana kain, atasan kemeja terkadang menggunakan batik, siapa sangka dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM),  Eka Kadharpa Utama Dewayaji, SE, MM memiliki hobi antik. Ia gemar mengoleksi kendaraan kuno, baik mobil maupun motor yang sebagian besar produk Eropa.
Eka menjadikan barang yang terkadang terlihat seperti rongsokan, tidak berfungsi bagi pemilik sebelumnya, menjadi kendaraan yang menarik. Dan tentu bisa dikendarai di jalanan. Tercatat, Eka kini memiliki sembilan mobil dan 12 motor. Koleksinya seperti VW Combi, VW 1302 LS ( VW Kodok),  Holden Belmont, Opel Capiten 1954 hingga Chevrolet C10. Sementara motor sebagian besar vespa, selain ada BMW dan Matchless, yang memiliki nilai sejarah baginya.
"Sebenarnya banyak, tetapi sudah ada yang saya jual. Karena bagi saya, mengumpulkan kendaraan seperti ini, bukan sekadar hobi. Saya juga mempertimbangkan nilai investasi," jelas Eka.
Hobi unik ini merupakan hobi yang turun menurun, dari kakek dan ayahnya. Sejak duduk di bangku SMP, di akhir tahun 1990an dan awal tahun 2000-an, dia melihat kakeknya suka mengoleksi mobil tua. "Saya kenalnya mobil tua, karena dulu kakek suka menggunakan mobil tua. Dia berburu sampai ke daerah, dibenahi sendiri dan saya jadi ikut-ikutan," ungkap pria yang juga Tim Pengembangan Unit Bisnis UMM ini.
Eka yang saat itu masih bersekolah, akhirnya ikut-ikutan. Berawal dari mengumpulkan yang seadanya. Karena 'seniornya’ kerap berburu kendaraan tua, tentu tak ada yang melarang Eka mengikuti jejak kakek dan ayahnya.
"Saat masih sekolah dan kuliah, kesibukan sampingannya ya otak-atik kendaraan kuno, jual-beli. Ya sama, belinya sampai ke daerah, dibenahi sendiri. Kendaraan itu biasanya belinya sampai diderek  atau dibeli dalam karung, seperti rongsokan," jelasnya.
Pembeliannya pun ada yang seperti cicilan. Bukan karena dia tidak memiliki biaya untuk melunasinya secara langsung. Tetapi, kendaraan yang dibeli memang sudah terpisah-pisah dari pemilik sebelumnya, sekalipun dari tangan pertama.
"Kendaraan seperti ini, terkadang sepele, tidak dibutuhkan oleh mereka karena sudah pindah generasi. Misal yang suka orang tuanya, anaknya sudah bingung mau dibuat apa kendaraannya. Kadang juga kendaraan itu sudah dibongkar, namun tidak bisa mengembalikannya. Ya saya harus beli sepeda motor, tetapi lampunya hilang, baru ketemu seminggu kemudian," urai bapak dua anak ini.

Berita Lainnya :