Dosen Kolektor Barang Lawas

Selain itu, ada beberapa kisah dari perburuannya ke daerah. Misalnya, barang yang dia incar ditukar dengan handphone. Awal 2000an, handphone  masih seolah barang mewah yang bisa menggoda orang di desa. Suatu ketika dia pernah menawarkan handphone, demi mendapatkan barang incarannya.
Semakin hari, tentunya koleksi kendaraan tersebut kian banyak. Ia terpaksa melepas satu per satu, walaupun awalnya dia tidak memiliki niatan untuk jual beli. Tetapi, ketika koleksinya kian banyak, dan ingin menambah koleksi lainnya, dia harus menjual salah satu kendaraannya. Selain sebagai modal, alasan lainnya adalah tempat untuk menyimpan kendaraan yang sebagian besar dari Eropa itu kian sempit.
"Ya ada yang dijual karena isi rumah penuh. Lalu coba ditawarkan atau kadang malah ada yang mencari, harganya cocok, ya saya jual. Karena selain hobi dan prestise, dirinya juga memperhitungkan nilai investasi," terangnya.
Salah satu nilai investasi dia contohkan ketika membeli kendaraan dengan harga sekitar Rp 3,5 juta. Kala itu dia membeli VW Combi yang sudah penuh debu, mesin juga mati. Kini, berapa harga kendaraan tersebut? Mencapai Rp 50-60 jutaan.
Lalu, dia juga memiliki koleksi yang menurutnya unik. Yakni Opel Capiten, kendaraan produksi Jerman di tahun 1954. Unik, karena untuk membelinya, dia harus membongkar dinding pemilik rumah lantaran kendaraannya tidak bisa keluar. "Ini saya belinya di Lawang. Awalnya, saya sudah datangi, katanya tidak jual. Tetapi setelah berapa lama, saya dihubungi,” katanya.
“Saya memang sering meninggalkan nomor telepon ke pemilik kendaraan yang pernah saya temui. Bila suatu saat dijual, mereka bisa menghubungi saya juga," sambung pria yang tinggal di kawasan Jalan Akordion Kota Malang ini.
Lalu, ada juga koleksi sepeda motor Matchless yang menurutnya tidak akan dia jual meski banyak  yang menginginkan. Kendaraan itu, dia dapat ketika masih sekolah, beli di Jayapura.
"Dulu belinya sama ayah. Sepeda motor ini sangat langka dan banyak yang tidak paham asal usulnya. Beda pendapat seperti tahun rakitannya. Tetapi, ada yang bilang ini limited edition, yang diproduksi karena untuk balapan," tambahnya.
Masih banyak lagi kisah menarik dari hobi pria kelahiran Bandung tersebut. Namun, ia mengakui kegiatannya berburu kini tidak seaktif dulu. Pasalnya, dia sudah memiliki pekerjaan utama sebagai dosen ditambah dengan mengelola serta mengawasi  beberapa unit bisnis  UMM. Akan tetapi, kegemarannya itu tidak bisa hilang. Cuma sekarang tidak bisa datang jauh ke luar kota, apalagi ke luar Jawa Timur. Padahal, dulunya dia   berburu sampai ke Pekanbaru atau beberapa kota lain di Sumatera.
"Kalau dekat, bisa didatangi dalam waktu sehari, mungkin bisa. Dalam waktu dekat saya ingin ke Madiun, ada kendaraan incaran, hahaha," katanya sambil tertawa. (ley/van)

Berita Lainnya :