Eksperimen Musiknya Lebih Liar


Bagi Saira Syaharani Ibrahim, atau dikenal dengan nama Syaharani, bermusik merupakan sebuah cara mengerti arti hidup. Inilah mengapa hingga saat ini, penyanyi Jazz nasional kelahiran Kota Batu ini terus eksis dan berkarya. Syaharani segera meluncurkan proyek album barunya kepada publik. Album ke empatnya ini dijanjikan meluncur sebelum penghujung tahun 2019.
“Nama albumnya jangan dulu lah ya. Yang jelas dalam waktu dekat ini sudah akan diluncurkan. Nanti saya bakal main secara khusus kok ke Malang untuk peluncuran album ini,” papar musisi kelahiran 1971 ini kepada Malang Post.
Ia menceritakan sedikit tentang album barunya ini. Yang ia sebut sebagai salah satu album yang akan berbeda dari album-album sebelumnya. Pasalnya, ia memberikan sentuhan musik yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.
Yakni salah satunya memberikan sentuhan musik klasik. Jika di album-album sebelumnya Syaharani masih bereksperimen dengan jalur Jazz murni saja. Di album terbarunya eksperimen musiknya akan lebih liar.
“Bisa dibilang gaya musik album ini adalah apa yang sering kita dengar sekarang. Namanya fushion atau Jazz Fushion,” terang perempuan yang pernah mewakili Indonesia tampil dalam North Sea Jazz Festival di Tahun 2001 ini.
Apakah hal ini menandakan Syaharani berpindah haluan gaya musik? Atau tidak lagi berkutat dengan gaya Jazz murni? Jawabannya tidak. Ia menjelaskan bahwa gaya bermusik tidaklah menunjukkan seorang musisi kehilangan arah atau menyerah pada keadaan untuk tetap eksis.
Akan tetapi menunjukan sesuatu yang alamiah dari seorang manusia menjalani kehidupan. Yakni menjalani proses.
“Itu bagian proses. Kita hidup melihat dan merasakan sesuatu yang baru, pastinya kita akan mengikuti itu. Begitu pula dengan bermusik. Saya merasakan sesuatu baru saya ingin itu masuk dalam karya saya,” paparnya.
Ia mengakui sebagian musisi lebih memilih untuk tetap satu hati pada gaya bermusik dari awal hingga akhir. Akan tetapi tidak bagi Syaharani. Putri dari pasangan Hasan Ali Ibrahim dan Elly Zapantis ini merasa harus terus berkembang. Mencari dan merasakan keresahan dalam berkarya menciptakan musiknya.
Untuk itulah, Syaharani terus melebarkan sayap dalam karir musiknya. Tidak hanya menghasilkan musik dan lagu saja. Kini ia pun tengah mengembangkan sebuah side project. Di mana dirinya memposisikan diri sebagai “seseorang di balik layar” saja.
“Ya jadi side project saya ini kebetulan belum ada namanya sih. Tetapi pada intinya saya ajak dan cari teman-teman komunitas musik untuk kemudian kerja bareng bermusik. Saya menciptakan aransemen kemudian diekskusi,” jelasnya.
Side Project ini diakui Syaharani juga untuk menjawab keresahan dalam dirinya. Ia ingin mencari bakat-bakat terpendam musisi yang belum menemukan jalannya. Ia ingin mengangkat muda-mudi untuk dapat berkembang.
Project ini, lanjut Syaharani juga tidak terbatas dalam satu gaya musik saja. Ia menceritakan proses dalam bermusik di proyeknya ini. Ia yang bergerak sebagai komposer akan memberikan ide awal. Kemudian timnya tersebut dipersilahkan melakukan re-arranged (pengaturan kembali,red) sesuai kreasi dan gaya mereka sendiri.
“Ya saya suka dengan hal-hal baru. Apalagi dalam musik. Kita harus berani bereksperimen terus dan selalu mau belajar,” tegas Syaharani yang saat ini juga memiliki grup musik kolaborasi yang dinamakan Syaharani dan Queenfireworks.
Lantas, bagaimana Syaharani melihat perkembangan musik di Indonesia khususnya Kota Malang? Utamanya yang berhubungan dengan aliran Jazz?
Ia dengan tegas mengatakan masa depan musik berkualitas di Indonesia sangatlah cerah. Dan ia meyakini berbagai jenis musik, tidak hanya Jazz, akan tumbuh subur dan mudah diterima oleh masyarakat Indonesia.
“Karena kita punya bonus demografi. Beberapa tahun ke depan, Indonesia akan didominasi dengan mereka yang usianya masih sangat produktif. Dengan pikiran muda-mudi maka ide kreatif akan bergelimpangan. Begitu juga dengan karya musik,” saut pemilik album berjudul Love, Magma dan Syaharani ini.
Dengan bonus tersebut, Syaharani meyakini musik di Indonesia akan jauh lebih beragam, berkualitas dan kreatif daripada sebelumnya. Terlebih di Kota Malang, tambahnya. Mengapa demikian?
Syaharani memperhatikan, Kota Malang memiliki atmosfir musik yang lebih baik. Beberapa tahun belakangan ia pun memperhatikan banyak event musik tumbuh dan kerap diselenggarakan di Kota Malang. Itu pun tidak hanya satu jenis musik saja tetapi beragam.
“Ada event folk music, jazz juga di Malang sering sekali. Saya pikir ini sangat bagus, Ditambah lagi Malang adalah kota pendidikan, tempat ngumpulnya muda-mudi menimba ilmu yang semangat berkarya sangat tinggi,” jelasnya.
Tidak hanya itu ruang-ruang diskusi seni pun tidak sedikit di Malang. Hal ini sangat memungkinkan bagi embrio musik dapat berkembang pesat di Malang. Sangat memungkinkan pula bakat musisi besar tumbuh di Kota Malang.
Inilah mengapa Syaharani tetap percaya, masa depan musik di Indonesia akan tetap cerah cemerlang. Bahkan lebih berkembang daripada sebelum-sebelumnya. Begitu pula dengan perkembangan industri musik.
Industri musik pun diyakininya tidak akan melulu mengejar profit atau hanya mengejar tren musik masyarakat semata. Tanpa memperhatikan bakat musik sebenarnya.
“Saya yakin sekali. Banyak sekali orang-orang resah di luar sana yang mau membuat sesuatu khususnya industri jauh lebih baik. Bahkan anak-anak indie pun saya yakin akan membuat pasarnya sendiri dan tidak kalah,” tegasnya.
Hal yang perlu dilakukannya, hanyalah berani. Berani muncul ke permukaan, kemukakan pendapat, berkarya dan tetaplah resah. Dengan begitu ia yakin, apapun jenis musiknya karya musik akan mendapatkan tempat di hati masyrakat.(Sisca Angelina/ary)