Mendarat di Landasan Patah


PESAWAT C-212 Casa merupakan pesawat milik TNI AU. Berada di Lanud Abd Saleh, pesawat tersebut diterbangkan para pilot andal. Salah satunya Letkol Pnb Wisnu Aji Prabowo. Wisnu yang bertugas di Lanud Abd Saleh sejak tahun 2001 ini merupakan  pilot yang sangat profesional.
Dalam setiap penerbangan yang dilakukan, terutama saat menjalankan  tugas misi, dia  selalu memberikan kenyamanan kepada para penumpang pesawatnyal. Mulai saat take off maupun landing.
”Pesawat Casa berbeda dengan Hercules. Casa memiliki badan pesawat lebih kecil. Sehingga bisa menjangkau landasan-landasan kecil. Saya bisa tahu lebih banyak daerah-daerah di Indonesia, terutama daerah-daerah terpencil,’’ kata Wisnu.
Bapak tiga anak ini masuk TNI AU sejak tahun 2000 lalu. Setelah lulus Akademi Angkatan Udara (AAU), dia kemudian mengikuti Sekolah Penerbang. Ia kemudian terpilih menjadi pilot pesawat Casa.
”Kalau bagaimana proses menjadi pilot, sama seperti pilot lainnya. Karena acuannya adalah hasil dari Sekolah Penerbang,’’ katanya.
Meskipun bentuknya lebih kecil, tapi fungsi pesawat Casa hampir sama dengan Hercules. Yaitu sebagai pesawat angkut, baik penumpang maupun logistik.  Saat melakukan misi pengiriman logistik di daerah bencana, Hery mengaku sehari-harinya dapat dipastikan berada di dalam pesawat. Karena pesawatnya dibutuhkan dalam pengiriman logistik.
”Kalau pas misi, istirahatnya hanya malam saja. Karena sehar-hari dalam pesawat,’’ ungkapnya.
Wisnu memiliki banyak pengalaman. Tapi yang tak terlupakan saat landing di landasan di wilayah Alor. ”Saat itu tahun 2007. Di Alor baru terkena bencana, dan tidak ada pesawat yang mendarat, karena kondisi landasan pacunya patah. Kami pertama yang mendarat di sana, karena yang saya pikirkan adalah warga. Bagaimana mereka mendapatkan bantuan,’’ ungkapnya.
Ketika landing dengan selamat, Wisnu pun menarik nafas lega. Apalagi, saat itu sambutan masyarakat terhadap dirinya dan kru pesawat lainnya sangat antusias. ”Begitu sampai, logistik yang kami bawa pun langsung kami bagikan. Saya puas, karena warga mendapatkan bantuan,’’ urai pria asli Jogjakarta.
Hal ini juga terjadi di wilayah Simoloe, Sumatera Utara.  Ia landing pertama walau kondisi landasan retak akibat gempa. ”Tidak ada pesawat lain yang mendarat, makanya kami mencoba. Alhamdulillah, semuanya lancar,’’tambahnya.
Sampai saat ini, Wisnu telah mengantongi 3.500 jam terbang. Penerbangan yang dilakukan tak hanya untuk menjalankan misi. Tapi juga latihan. Untuk latihan, tidak hanya dilakukan pada pagi hari, tapi juga malam.
”Tadi malam (Rabu) saya terbang malam, untuk latihan,”  katanya. Walau menjabat sebagai Komandan Skadron 4 Lanud Abd Saleh, sampai sekarang terus menerbangkan pesawat. Dia juga kerap sekali mengikuti misi sosial.
”Sebagai prajurit TNI, kami harus stand by 24 jam. Ya meskipun sedang istirahat di rumah, saat ada panggilan mendadak, kami langsung  berangkat,’’ tambahnya.
Keluarganya juga sangat mendukung.”Alhamdulillah, istri dan anak paham pekerjaan saya. Selama bertugas, mereka selalu mendukung,’’ tandasnya.(ira/van)

Berita Terkait