Merawat Batu Lumpang Pemberian Warga


BARANG KUNO dan sejarah identik dengan dirinya. Begitulah Dr. Abdul Latief Bustami, MSi, dosen sejarah  Universitas Negeri Malang (UM). Ia mengkoleksi beberapa barang kuno dan lumpang yang identik dengan sejarah.  Barang koleksinya dikumpulkan dengan rapi di rumahnya, yang terletak di kawasan Perumahan Permata Tlogomas, Kota Malang.
Sebelum memasuki ruang tamu, Malang Post diajak berkeliling halaman rumahnya. Ia memperlihatkan satu per satu lumpang yang ada di taman rumahnya. Banyak sekali lumpang lingga dan lumpang yoni yang selalu ada di setiap bangunan candi utama.
Latief  mengungkapkan, mulanya ia mengumpulkan lumpang sekitar tahun 2004. "Awalnya saya diberi warga. Mereka menemukan benda bersejarah di sekitar sini (rumahnya). Akhirnya, diberikan kepada saya," terang dia.
Kemudian, satu per satu, berbagai macam jenis lumpang mulai mengisi rumahnya. Ia menilai, masyarakat sekitar memiliki kepercayaan kepadanya untuk memelihara benda bersejarah itu.
Apalagi ia bekerja sebagai dosen sejarah. "Mereka percaya kepada saya, jadi dititipkan di sini. Saya juga tidak akan mungkin menjual benda bersejarah ini," papar pria yang juga Ketua Tim Ahli Penetapan Warisan Ahli Tak Benda ini.
Sehingga, setiap menemukan benda yang dinilai bersejarah. Baik lumpang lingga, yoni hingga barang kuno lainnya, selalu diserahkan kepada Latief. "Warga selalu datang kesini dan menyerahkan kepada saya. Dengan senang hati saya terima dan saya tata di rumah," papar dia.
Lebih lanjut, Latief mengungkapkan, selain sebagai bentuk koleksi, dirinya juga mengumpulkan barang-barang bersejarah tersebut sebagai tambahan ilmu pagi para wisatawan mancanegara di Indonesia. Apalagi, rumahnya juga sering menjadi markas AISEC, yakni program pertukaran pelajar mancanegara. "Ada beberapa mahasiswa yang datang dari Ukraina, Uni Soviet hingga Brasil datang dan menginap di rumah saya. Saya selalu bercerita kepada mereka soal benda bersejarah ini. Mereka terkesima," kata pria asal Madura tersebut.
Selain koleksi lumpang yang diletakkan di luar rumah, Latief juga menyimpan beberapa barang kuno yang masih berjejer rapi di rumahnya. Mulai dari lantai, pajangan rumah dan masih banyak lagi. "Selain belajar terkait benda bersejarah dengan lumpang, mereka juga belajar barang kuno. Mahasiswa mancanegara bilang kepada saya, your home is museum," terang dia sambil tertawa.