Pasutri Berpengalaman Operasi Kemanusiaan


PASANGAN suami istri (pasutri) Amirul Yasin dan Nenti Wiasih sudah lebih dari 30 tahun mengabdi untuk sesama melalui Palang Merah Indonesia (PMI). Tsunami Aceh, erupsi Gunung Merapi, Kelud, Sinabung, gempa Lombok dan Sulteng pernah menjadi medan operasi kemanusian mereka.  
Cerita tentang penanganan korban tsunami Aceh tahun 2004 tak terlupakan oleh Amirul Yasin. Kala itu, Yasin bertugas sebagai  relawan di Aceh. Ia tak hanya kerja keras untuk menuju lokasi yang harus dilalui dengan berjalan kaki sekitar 20 kilometer. Tapi harus menerima risiko dengan ancaman gerakan separatisme.
Aceh pada tahun 2004 masih menjadi daerah operasi militer (DOM). “Saya harus berjalan 20 kilometer setiap hari selama 1,5 bulan. Khawatir pasti kala itu, apalagi komunikasi juga terputus," kenangnya. Tapi karena semangat kemanusiaan, ia bisa melewatinya.
Sudah begitu, Yasin pun harus menghadapi potensi bencana susulan yang juga terjadi di beberapa lokasi lain. Tetapi, ia sudah berkomunikasi dengan keluarga sebelum berangkat ke Aceh,  mengenai hal yang mungkin terjadi atau akan dialami.
Pria asal Gondanglegi ini menuturkan, beberapa kali mendapatkan kepercayaan mulai dari pengisi pelatihan hingga penugasaan penanganan bencana. "Saya pernah menjadi manajer tanggap darurat bencana, kordinator WASH (water and sanitation healthy). Lalu Sphere project serta tim PP dan ambulance,” katanya.
Khusus relawan bencana, selain di Aceh, Yasin pernah terlibat dalam penanganan erupsi Gunung Merapi di Sleman, erupsi Gunung Kelud hingga tim teknis perencanaan penanganan korban erupsi Gunung Sinabung. Selain itu pernah diberi kepercayaan sebagai konsultan manajer tanggap darurat gempa di Lombok serta Sulteng.  
Pengalaman lainnya yakni membentuk dan melatih tim tanggap darurat di Timor Leste. Semua tugas kemanusiaan yang diemban itu dijalankan secara maksimal. Itu karena berbagai pihak, terutama keluarga.  
"Dukungan keluarga sangat luar biasa. Kebetulan, istri saya juga sudah sejak remaja aktif dalam kegiatan seperti ini. Selain itu, tentu induk organisasi saya," tambahnya.
Jiwa kemanusiaan Yasin sebenarnya sudah berkobar sejak masih duduk di bangku
SMA Agus Salim, Gondanglegi. Saat itu, ia sempat membawa sekolahnya menjadi juara umum lomba PMR  tingkat  Kabupaten Malang. Selain itu mewakili lomba PMR sampai tingkat Jawa Timur dan menjadi juara.
Lulus SMA,  jiwa peduli sesamanya tetap besar. Pengabdiannya dilanjutkan dengan menjadi relawan PMI di Kabupaten Malang. Tahun 1990, Yasin ikut  lomba ketrampilan relawan di Selorejo, Ngantang dan kembali membawa Kabupaten Malang menaksir juara.
"Berangkat dari relawan itu, saya direkrut menjadi staf di PMI Kabupaten Malang . Saat itu tugas saya di unit transfusi darah mulai tahun 1991- 2004. Lalu, saya bertugas sebagai tenaga administrasi, laboratorium screening dan laboratorium uji silang," kenang Yasin.
Pengalaman lainnya yakni ketika banjir bandang di Pujiharjo, Malang selatan. " Saat terjadi banjir bandang di sana, saya petugas teknik di Laborat UTD PMI. Saya ke lokasi bencana. Alhamdulillah dari peristiwa itu saya dianggap mampu menangani," papar dia kepada Malang Post.
Anak-anaknya pun kini tertarik dengan kegiatan Yasin. Yakni kegiatan menolong orang dan membantu sesama. "Mungkin mereka tertarik melihat saya. Mungkin juga sudah mengalir di darah mereka untuk menolong sesama seperti yang dilakukan orang tuanya. Saya pun sangat mendukung kegiatan mereka. Ini positif, biar mereka belajar memahami hidup, belajar berbagi dan bertanggung jawab," ungkap pria yang kini tinggal di Kebonsari, Kecamatan Sukun tersebut.
Kedua anaknya, yakni Apsara Odelia dan Dary Lancana kini aktif di PMI. Padahal, Apsara masih berstatus mahasiswa semester delapan di Universitas Brawijaya (UB), sedangkan Dary mahasiswa Polinema semester empat.
"PMI itu organisasi yang baik, mendidik remaja untuk mempunyai jiwa empati, peduli lingkungan, dan terampil pertolongan pertama. Jadi kalau anak-anak kami aktif jadi relawa, kami  tidak keberatan. Dari pada salah organisasi dan salah pergaulan. Saya berharap kelak kalau mereka jadi pemimpin, pemimpin yang berjiwa Palang Merah," sambung Nenti, istri  Yasin.
Menurut Nenti yang kini bertugas di PMI Kota Malang, dirinya tidak memaksa anak-anaknya. Namun, dua putra putrinya itu  sudah merasakan manfaat jadi relawan.
"Anak saya yang nomor satu, karena berprestasi di PMR waktu masih  SMAN 2 terpilih jadi Ketua OSIS dan Alhamdulillah lolos masuk UB melalui jalur SNMPTN. Anak saya yang kedua, karena aktif di PMR dan taruna SMKN 4, Alhamdulillah  lolos seleksi PSG di Kantor Sekretariat Wakil Presiden RI, saat ini kuliah di Polinema," papar dia bangga.
Nenti mengakui, anak mereka aktif melatih PMR di beberapa sekolah dan tercatat sebagai KSR PMI di kampusnya dan Unit SAR PMI. "Yang penting tidak mengganggu kuliah, mumpung masih muda biar belajar memberi kemanfaatan hidup pada banyak orang," tutur dia.
Sementara Nenti sebenarnya sudah aktif sejak sekolah bahkan saat sekolah dasar.  "Saya ikut PMR mulai SD, tapi ikutan kakak saya waktu itu karena di SD belum ada PMR. Kemudian SMP dan SMA aktif di sekolah. Saat kuliah kampus saya belum ada UKM KSR PMI, tapi karena terlanjur senang kegiatan PMI, saya nekat gabung di KSR PMI Unit UB. Alhamdulillah, saya diterima ikut Diklatsar waktu itu, tahun 1991," terang dia.
Bagi Nenti, menjadi keluarga Palang Merah menghasilkan kepuasan tersendiri. Mereka bahagia bisa membantu orang lain.  "Kalau Pak Amirul Yasin sedang tugas pencarian orang hilang, saya di rumah bantu doa agar segera ditemukan korbannya. Karena keluarganya pasti cemas," imbuhnya.
Dia memiliki pengalaman menarik di dunia PMI.Yakni bertugas menjemput pengungsi korban kerusuhan Sampit. "Waktu itu naik KRI Teluk Bone. Selebihnya kegiatan saya menjadi trainer home care untuk relawan PMI dan masyarakat,” katanya.
Ia pernah ditugaskan melatih masyarakat di Kota Tarakan dan Kabupaten Belu, NTT. “Kalau sekarang, berjibakunya dengan darah," papar perempuan yang kini menjadi  Kepala Seksi Tata Usaha di Unit Transfusi Darah PMI Kota Malang tersebut. (ley/van)