Puisi Menemui Diri


TAK semua orang bisa menulis puisi. Sebab harus memiliki rasa, pengalaman dan ilmu pengetahuan yang memadai.  Sehingga serangkaian kata yang terikat oleh irama, rima dan menyusun bait terasa  indah dan penuh makna.
Dewi Rizky Maulidah sudah menghasilkan ratusan puisi. Karya perempuan cantik alumnus Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Sastra Daerah UM ini dibukukan, Januari 2019 lalu. 
"Mulanya saya mulai menyadari dan mengenal puisi ketika kelas 5 SD. Tetapi sebelumnya saya aktif kegiatan menulis selain untuk kebutuhan belajar telah hadir ketika saya masih kelas 4 SD," kata Dewi.
Dari kebiasaan menulis itulah tanpa sengaja Dewi bertipografi (tulisan yang menciptakan kesan.red). Semua berubah setelah ia bertemu sebuah buku ‘Kerikil Tajam’, ‘Yang Terhempas dan Yang Terputus’, serta ‘Deru Campur Debu’ karya Chairil Anwar waktu kelas 5 SD.
"Membaca puisi karya Chairil Anwar itulah saya mulai terbawa dunianya. Sehingga menghantarkan saya untuk lebih menekuninya," papar perempuan kelahiran Gresik, 19 Agustus 1993 ini.
Selain itu, lanjut Dewi, dari puisi yang dibaca membuatnya tertarik untuk terus membaca buku. Hingga memasuki masa SMP, terus menulis puisi dan mulai membaca buku-buku yang terkait dengan puisi dan sastra.
Kegemaran membaca membuat Dewi semakin melahap bacaan-bacaan. Akhirnya membuat ia tidak putus dengan puisi. "Pada akhirnya puisi menjadikan saya membuka sisi-sisi kesadaran diri. Dan memaknai puisi bukan lagi sekadar karya melainkan atas kemungkinan diri," ungkap perempuan ramah ini.
Sejak tahun 2004 – 2009, lebih dari 100 puisi pernah ia lahirkan. Namun karya-karya itu hanya tersimpan di lembaran-lembaran yang saat ini sudah tidak terjamah lagi.
Jika belum sempat menulis puisi, Dewi biasanya mengisi waktu dengan membaca buku. Sehingga pengetahuan, cerita dan berita mewarnai kehidupan Dewi tiap harinya. Ini membuat ia  terus mencipta puisi. "Masa itu saya ibaratkan adalah masa menanam puisi," imbuhnya.
Kemudian, tahun 2011 ia kembali mulai aktif menulis puisi dan mulai mengikuti beberapa lomba. Kebiasaan ini terus berlanjut hingga tahun-tahun selanjutnya memasuki masa kuliah.
Saat kuliah itulah, Dewi mulai mengumpulkan puisi yang pernah ia ciptakan dengan puisi terbarunya. Pada tahun 2014, ia mengenal penerbit online bernama Bitread.co.id yang melahirkan buku puisi pertama  berjudul 'Daun-Daun Rasa'. Pada masa itu pula  dia mulai tertarik mengikuti beberapa lomba puisi termasuk lomba membuat cerita.
Di pertengahan tahun 2017 akhirnya ia menerbitkannya karya yang telah digoreskannya. Saat itu Dewi menggandeng penerbit Pelangi Sastra yang ada di Malang.
Namun tidak semudah mencetak tugas kuliah. Lebih dari satu tahun ia melakukan proses kurasi untuk penerbitan. Berbagai keputusan dan pandangan tentang puisi pun berdatangan. Tetapi di ujung tahun 2018 Dewi sudah bernapas lega. Pasalnya pada Januari 2019 buku kumpulan puisi tersebut lahir dengan judul 'Pemeluk Angin'.
"Dalam buku yang baru saya  terbitkan ini, ada lebih dari 50 judul puisi yang dipilih dari tahun 2014 hingga 2018. Dengan tema atau jenis puisi yang saya tulis adalah perjalanan, puji-pujian alam, dan romansa ketuhanan," beber perempuan yang saat ini bekerja sebagai Staf Administrasi Proyek di PT Sampoerna Alam Samudra ini.
Misalkan tentang perjalanan, ia mengangkat sebuah perjalanan dirinya ketika berkunjung di sebuah desa dan pegunungan hingga perjalanan ke kota-kota. Serta perjalanan secara jasmani dan rohani serta perjalanan keberadaan apa saja yang ada di bumi dan di luar bumi.
Untuk tema puji-pujianan, puisi seperti puji-pujian kepada alam semesta dan roh kehidupan semesta. Sedangkan romansa ketuhanan layaknya kecintaan terhadap sang pencipta dengan segala ciptaannya. Termasuk apa yang ada dalam diri manusia.
Sedangkan inspirasi puisi yang ia ciptakan yakni perjalanan mulai dari mengenal puisi hingga bagaimana pandangan terhadap kehidupan sekarang. Misalnya bagaimana caranya melatih diri, bagaimana caranya lebih mengenal diri.
"Oleh karenanya, bagi saya berpuisi adalah sebuah usaha mengenal diri. Serta puisi yang saya buat memiliki pesan sudah sampai mana perjalananmu menemui diri-mu," ungkap  perempuan yang mengidolakan Chairil Anwar, Amir Hamzah dan W.S. Rendra ini.
Sampai saat ini ia masih tetap menulis puisi dan akan kembali merambah ke dunia prosa. Sudah lebih dari 200 puisi terlahir di tahun 2014-2019.  "Bagi saya membaca adalah sebuah usaha menghadapi dunia, menulis adalah berlatih bersikap, dan berpuisi adalah sebuah usaha mengenal diri. Semuanya adalah kepekaan untuk bermuara pada penerimaan," pungkasnya. (eri/van)