Spesialis Buka Tempat Terbang


HARIS EFFENDI menekuni  paralayang sekaligus paramotor.Staf  Disparta Pemkot Batu ini terkenal sebagai spesialis buka tempat baru paralayang. Makin hari, Haris kian optimis wisata dirgantara digemari warga.   
Bagi Haris, paralayang dan paramotor lebih dari sekadar olahraga prestasi maupun hobi. Sebab melalui olahraga ini, perekonomian bisa bergerak cepat. Contohnya UMKM bertumbuh, lapangan pekerjaan hingga sumber pendapatan daerah.
"Saat ini baik paralayang maupun paramotor jadi magnet dunia. Pasalnya bisa jadi wisata paralayang, sehingga suatu daerah makin berkembang. Salah satunya Kota Batu," papar pria  kelahiran Banyuwangi, 8 April 1982 ini.
Karena berbagai alasan itulah, Haris bersama sahabatnya, Samsul Hadi, yang juga Sekretaris Pengprov Paralayang Jatim tak kenal lelah membuka tempat baru,  yang memiliki potensi sebagai tempat paralayang.
Ia dan Samsul Hadi telah membuka delapan tempat wisata paralayang. Semuanya dilakukan secara sukarela, tanpa meminta fee atau bayaran. Alasannya ia telah berniat sejak awal untuk memajukan olahraga paralayang.
Beberapa tempat paralayang yang dibukanya, seperti Modangan di Kabupaten Malang tahun 2017, dua tempat di Pacitan, Trenggalek, Ponorogo, dan Jombang pada tahun 2018.  Hampir semua tempat terbang paralayang tersebut kini populer.
Tak hanya di Jawa Timur, staf Disparta Kota Batu ini juga buka tempat paralayang di Sumbawa Barat, Sumbawa Besar, NTB pada tahun 2015. Selain itu di Lembata, NTT yang sudah digunakan even internasioanal akhir tahun 2018 lalu.
Pengalaman membuka lokasi paralayang, Haris punya banyak tawaran menggiurkan. Salah satu contohnya di Pacitan. Ia diminta mengelola wisata paralayang dengan gaji Rp 6 juta per bulan oleh salah seorang lurah du Pacitan. Begitu juga di Sumbawa, Haris sempat akan diberi tanah seluas satu hektare untuk mengembangkan wisata paralayang.
Tapi berbagai tawaran tersebut ditolaknya. Itu karena orientasi awal dalam mengembangkan wisata paralayang bukanlah materi. Tapi menggeliatkan pariwisata dan menumbuhkan perekonomian hingga mencetak atlet berbakat.
Dengan dibukanya wisata paralayang di Modangan, diungkap Haris, terdapat tiga  bibit muda atlet paralayang dari 17 orang di desa setempat.
Sedangkan untuk metode pengembangan, ia harus mengajari warga. Tujuannya agar tahu bahwa wisata paralayang tidak menakutkan. Asalkan paham dan mau mempelajarinya.
Baru kemudian, melakukan sosialisasi lebih luas. Contohnya, Gunung Banyak di Kota Batu yang kini berkembang. Termasuk UMKM hidup 24 jam dengan banyak produk  yang dijual.
"Perlu digarisbawahi, untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat,  saya tak melihat latar belakang pekerjaan ataupun pendidikan," imbuhnya. Setelah masyarakat yakin, barulah mengajak pemerintah setempat. Caranya dengan studi dan mencontoh program yang telah dilakukan Pemkot Batu.
Dengan metode seperti itu,  masyarakat akan mulai berpikir apa yang bisa menjual dari potensi yang ada di sekitarnya. Ada inovasi dari berbagai bidang. Baik makanan daerah yang dikemas menarik hingga oleh-oleh khas daerah berupa kerajinan tangan.
Setelah delapan tempat berhasil dibukanya, bulan depan usai Pemilu 2019, Haris membuka wisata paralayang di NTT. Yakni Bajawa, Sabu dan Kupang. Selain itu menindaklanjuti pengembangan wisata paralayang yang telah dibukanya di Bima dan  Lembata bersama masyarakat dan pemda setempat. (eri/van)