Tetap Relawan Walau Sudah Pensiun


USIANYA sudah tidak muda lagi. Namun semangat Mudji Utomo luar biasa sekali. Ia tetap mengabdi sebagai relawan PMI walau sebenarnya sudah pensiun. Pria yang genap berusia 61 tahun pada 24 November mendatang ini termasuk salah satu relawan yang pertama kali datang ke lokasi tsunami Aceh, tahun 2004 lalu.
Mudji Utomo memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Selagi masih mampu berdiri, ia akan mengabdikan hidupnya untuk PMI. "Sampai kapan (mengabdi, red), mungkin sampai batas kemampuan saya. Selama masih mampu mengabdi, saya akan terus lakukan. Karena ini adalah panggilan hati nurani," ungkap Mudji Utomo.
Dia  saat ini menjabat Kasubsi Penanggulangan Bencana PMI Kabupaten Malang. Meski sejatinya sudah pensiun sejak tahun 2015 lalu, namun sampai sekarang masih tetap mengabdi.
Mbah Tomo sapaan akrabnya ini, bisa menjadi panutan semuanya. Karena meski usianya sudah tua, tetapi semangatnya untuk mengabdi di PMI Kabupaten Malang masih menggebu. Tidak pernah mengeluh ataupun menyerah, karena jiwa sosialnya sudah tertanam dalam dirinya.
Di kalangan relawan penanggulangan bencana, nama Mbah Tomo sudah tidak asing. Warga Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis ini, termasuk paling senior. Bahkan selalu menjadi koordinator di lapangan, ketika terjadi bencana ataupun evakuasi setiap ada kejadian.
Sebelum terjun ke dunia sosial dan bergabung di PMI Kabupaten Malang, Mbah Tomo adalah pemain sepak bola. Dia dulu bergabung di Persekam Kabupaten Malang. Karena prestasinya sebagai pemain sepak bola, Mbah Tomo kemudian ditempatkan di PMI Kabupaten Malang, sejak tahun 1983.
Semula hanya sebagai driver mobil ambulans. "Karena saat itu, yang bisa menyetir mobil hanya saya. Dan karyawan di PMI Kabupaten Malang, hanya enam orang," ujarnya.
Kemudian pada tahun 1989, karena dedikasi  dan jiwa sosialnya yang sangat tinggi, Mbah Tomo diangkat sebagai Kasubsi Penanggulangan Bencana. Jabatan itupun diembannya sampai sekarang ini.
Sebetulnya, Mbah Tomo sudah pensiun sejak tahun 2015 lalu, karena batas usia untuk pegawai hanya sampai 56 tahun. Tetapi karena masih dibutuhkan, akhirnya diperpanjang dua tahun sampai 2017.
"Tapi karena saya masih ingin mengabdi, akhirnya masih tetap bertahan dan menjadi Kasubsi Penanggulangan Bencana. Namun setiap tahun harus memperbaharui kontrak," tuturnya.
Selama mengabdi di PMI, hidupnya dihabiskan untuk sosial. Setiap hari ia selalu ada di Kantor PMI Kabupaten Malang, yang berlokasi di Jalan Raya Kebonagung, Pakisaji. Pulang pada malam hari pukul 21.00, dan harus kembali lagi pagi harinya pukul 07.00.
"Tetapi juga banyak tidak pulangnya. Karena ketika piket, bisa empat hari tidak pulang. Apalagi kalau ada kejadian bencana dan evakuasi, bisa sampai beberapa hari tidak pulang," urainya.
Bahkan karena jiwa sosialnya, dia harus siaga kapanpun selama 24 jam. Tengah malam pun kalau memang dibutuhkan, harus siap berangkat, sekalipun dalam kondisi sakit atau badan kurang sehat.
Karena waktunya habis untuk mengabdi, Mbah Tomo jarang sekali bercengkrama dengan keluarga. Terutama dengan anak dan cucunya. Ketika kangen cucunya, Mbah Tomo sampai mendatangkan cucunya ke Kantor PMI Kabupaten Malang.
"Biasanya, orang tuanya saya hubungi, kalau lagi kangen dengan cucu. Mereka pun akhirnya membawa anak-anaknya datang ke sini (Kantor PMI, red), lalu saya ajak bermain," bebernya.
Sejak tahun 1983 mengabdi di PMI, Mbah Tomo tidak hanya datang pada kejadian bencana alam seperti banjir, tanah longsor, gempa, puting beliung dan tsunami. Tetapi juga membantu mengevakuasi mayat. Seperti korban kecelakaan lalu lintas, korban kecelakaan laut, tenggelam di sungai, bunuh diri serta korban lainnya.
Selama melakukan evakuasi, sama sekali tidak merasa takut ataupun jijik. Karena semuanya didasari rasa kemanusiaan dan jiwa sosial. Terhitung mulai tahun 1983 sampai sekarang, sudah ratusan atau bahkan ribuan mayat yang telah dievakuasi.
Selain bencana di Malang, Mbah Tomo, juga pernah membantu evakuasi korban bencana alam di beberapa tempat. Seperti tsunami Aceh, gempa bumi di Jogja dan erupsi Gunung Merapi dan Kelud.
 Bahkan pada tahun 2005, ia menerima penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, mewakili PMI Kabupaten Malang. Itu karena menjadi tim pertama yang datang di lokasi bencana tsunami Aceh.
"Ketika di lapangan, saya sama seperti relawan lainnya. Juga turun membantu masyarakat. Hanya saja, biasanya saya ditunjuk sebagai koordinatornya," paparnya.
Tsunami Aceh tahun 2004 lalu, menjadi yang paling berkesan saat turun menjadi relawan kemanusiaan. Mbah Tomo yang tiba di lokasi bencana nasional paling pertama, melihat banyak mayat berserakan, yang harus dievakuasi.
Mayat tersebut adalah korban, dari ombak dahsyat yang memporakporandakan Aceh.  "Turun membantu evakuasi di tsunami Aceh adalah yang paling terkesan dan selalu teringat sampai sekarang,” katanya.  
“Selain melihat kondisi Aceh yang parah, selama sebulan di sana saya hanya makan mie instan. Meskipun membawa uang, tetap tidak bisa membeli apapun, karena tidak ada toko,” sambungnya.  (agp/van)