Wakil Rektor dan Mengurus Pesantren


SEMAKIN tugasnya bertambah, ia justru kian bersyukur. Begitulah prinsip Wakil Rektor II UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si. Saban hari pulang pergi Pasuruan-Malang, ia tetap bersemangat. Menjalankan tugas di kampus dan juga mengurus yayasan pesantren.
Setiap pagi, Ilfi sudah berangkat dari rumahnya di Pasuruan, pukul 06.00 WIB. Kalau kondisi jalan tak macet, pukul 08.00 WIB sudah tiba kampus UIN. Bertahun-tahun ia melakoni perjalanan pulang pergi tersebut.
Baginya, pengabdian kepada lembaga dan negeri ini adalah sebuah  keharusan. Sebagai abdi negera, segala risiko tentu harus siap dihadapinya. Termasuk pengorbanan waktu dan tenaga.
Selain memiliki tugas di UIN Maliki, Ilfi juga mengelola yayasan pesantren di Pasuruan. Pesantrennya bernama Al-Yasini. Saat ini pesantren tersebut memiliki lebih dari 5.000 santri. Dulu Ilfi sempat menjabat sebagai ketua yayasan. Saat ini ia dipercaya sebagai  pembina dan Dewan Pengawas Ekonomi Syariat di Al-Yasini. “Dinikmati dan dijalani saja dengan ikhlas, karena keduanya harus saya jalani setiap hari. Sebisa mungkin memberikan kontribusi yang positif untuk lembaga,” ucapnya.  
Pekerjaannya sebagai dosen dan jabatan Wakil Rektor II di kampus tentu tidak sedikit. Bahkan tidak jarang harus keluar kota untuk menjalankan tugas kantor. Dua sampai tiga hari atau bahkan lebih, ketika Ilfi harus melaksanakan tugasnya ke luar kota.
Di sisi lain, ia merupakan istri dan ibu dari tiga anak. Bagaimana pun dia harus bijak dalam membagi tenaga, waktu dan pikiran untuk mereka.
Untungnya, sejak dulu ketiga anaknya telah dilatih untuk bisa hidup mandiri tanpa harus selalu bergantung  pada orang tua. Selama ini mereka tinggal dan menuntut ilmu di pondok pesantren. Masing-masing di Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang, Bangil dan Sidogiri. Di tengah agenda tugas yang padat, Ilfi menyempatkan diri menyambangi anaknya di pondok pesantren. “Setiap minggunya saya gilir mengunjungi mereka, dan ini menjadi hiburan tersendiri bagi saya,”  ungkapnya.
 Semangat jiwa mengabdi dalam diri seorang Ilfi, telah tertanam kuat sejak dulu. Hal itu hasil dari pendidikan orang tuanya yang selalu memotivasi dan menjadi inspirasi dalam hidupnya. Sehingga meskipun jarak rumah dan tempat tugas sangat jauh, ditambah segudang pekerjaan tak membuatnya tertekan dan terbebani.
“Syukurilah semua tugas yang dipercayakan pada kita, disitulah nilai produktivitas kita. Karena tidak semua orang memiliki kesibukan, akhirnya tidak tau apa yang harus dilakukan,” imbuhnya.
Menurut mantan Ketua Pusat Studi Gender (PSG) UIN Maliki ini, semua proses kalau dilalui dengan penuh syukur tidak akan menjadi beban. Ia menilai setiap pekerjaan merupakan sarana untuk ibadah. Paling penting, nilai setiap pekerjaan adalah manfaatnya.
Maka hal yang paling berkesan bagi Ilfi dalam hidunya ketika ia bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Sehingga kesan yang baik bisa didapat kapanpun dan dimanapun ketika bisa memberikan faedah bagi masyarakat. “Kalau kita banyak pekerjaan berarti peran kita masih dibutuhkan,” tambahnya.
Sebagai seorang manusia biasa, ia juga pernah mengalami down.  Di saat seperti itu, tidak lantas membuatnya panik atau frustrasi. Sikap tenang dan mencoba evaluasi diri dengan menambah waktu kerja agar semua masalah dapat teratasi dengan baik. “Intinya jangan mudah menyerah. Semua masalah yang dihadapi merupakan bagian yang harus dilalui agar kita semakin dewasa,” terangnya.
Oleh karena itu, lanjut dia, dalam dunia kerja dibutuhkan teman untuk sharing dan saling tukar pikiran. Beban dan permasalahan dalam pekerjaan tidak bisa dipikul sendiri. Keberadaan rekan dalam tim sangat dibutuhkan agar segala permasalahan dan kendala bisa diatasi bersama. “Harus ada waktu untuk bercanda bersama dan ngopi bareng teman. Dan jangan lupa untuk selalu menyertai doa dalam setiap langkah kita, sebab segalanya Allah yang menentukan,” tuturnya.
Jabatan wakil rektor di perguruan tinggi merupakan posisi yang strategis. Peran wakil rektor sangat menentukan kemajuan perguruan tinggi. Namun bagi Ilfi, jabatan tersebut merupakan sebuah amanah yang besar untuk harus dijalankan sebaik-baiknya.  
“Seorang pemimpin harus bisa membawa misi kenabian dengan bersikap adil dan menjunjung tinggi kebenaran, kejujuran dan keadilan,” tandas Mantan Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi ini.
Menurutnya seorang perempuan harus kuat dan memiliki jiwa yang tegas. Antara pria dan wanita di dunia ini memiliki kesempatan dan hak yang sama. Tidak ada alasan bagi seorang perempuan untuk tidak maju dan mencapai cita-cita yang tinggi.  “Dunia ini tidak hanya milik pria saja, tapi milik bersama,” pungkasnya. (imm/van)