Pasutri Berpengalaman Operasi Kemanusiaan


PASANGAN suami istri (pasutri) Amirul Yasin dan Nenti Wiasih sudah lebih dari 30 tahun mengabdi untuk sesama melalui Palang Merah Indonesia (PMI). Tsunami Aceh, erupsi Gunung Merapi, Kelud, Sinabung, gempa Lombok dan Sulteng pernah menjadi medan operasi kemanusian mereka.  
Cerita tentang penanganan korban tsunami Aceh tahun 2004 tak terlupakan oleh Amirul Yasin. Kala itu, Yasin bertugas sebagai  relawan di Aceh. Ia tak hanya kerja keras untuk menuju lokasi yang harus dilalui dengan berjalan kaki sekitar 20 kilometer. Tapi harus menerima risiko dengan ancaman gerakan separatisme.

Tetap Relawan Walau Sudah Pensiun


USIANYA sudah tidak muda lagi. Namun semangat Mudji Utomo luar biasa sekali. Ia tetap mengabdi sebagai relawan PMI walau sebenarnya sudah pensiun. Pria yang genap berusia 61 tahun pada 24 November mendatang ini termasuk salah satu relawan yang pertama kali datang ke lokasi tsunami Aceh, tahun 2004 lalu.
Mudji Utomo memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Selagi masih mampu berdiri, ia akan mengabdikan hidupnya untuk PMI. "Sampai kapan (mengabdi, red), mungkin sampai batas kemampuan saya. Selama masih mampu mengabdi, saya akan terus lakukan. Karena ini adalah panggilan hati nurani," ungkap Mudji Utomo.

Awalnya Takut Jarum, Kini 32 Tahun Donor Darah


HARI  Palang Merah Internasional yang diperingati pada 8 Mei 2019, menjadi monumen tahunan bagi para pejuang kemanusiaan tanpa pamrih di Malang Raya. Contohnya saja, Enny Yulistyorini, warga Jalan Gajahmada gang Belik, Sisir, Kota Batu.
Kesehariannya, wanita 54 tahun ini menjalankan usaha salon. Tapi, di luar usaha salon, Enny adalah seorang pendonor darah sukarela yang sudah mencatatkan 106 kali donor. Dia juga memegang tanda kehormatan Satyalencana Kebaktian Sosial Pendonor Darah Sukarela 100 Kali tahun 2018. Kehormatan di bidang kemanusiaan ini, diserahkan Wapres RI, Jusuf Kalla di Grand Sahid Hotel, Jakarta, awal tahun 2019.

Berita Lainnya :