Arya Terung Tewas Usai Ziarah ke Giri


Menurut Babat ing Gresik, sejak peristiwa itu Adipati Sengguruh sangat hormat kepada Sunan Giri I, hingga tiap setahun sekali bersama bala tentaranya berziarah ke Giri hanya untuk berbakti kepada Prabhu Satmata.
"Sementara, menurut Tedhak Dermayudan, setelah peristiwa kekalahan Adipati Sengguruh, daerah Jaha, Wendit, Kepanjen, Dinoyo dan Palawijen masuk Islam karena para penguasanya takluk kepada putra Sunan Giri yang bernama Pangeran Kedhanyang. Dan daerah Sengguruh telah beralih ke agama Islam karena berkat jasa seorang Syekh Manganti, paman Sunan Giri," terang Hery.
Setelah upaya menaklukkan Giri gagal, Arya Terung malah menjadi pendakwah agama Islam di pedalaman. Sayang, kala itu rakyatnya yang dipimpin oleh lawan lamanya yaitu Raden Pramana, putra patih Majapahit, melakukan pemberontakan.  Raden Pramana dibantu saudaranya yang menjadi adipati di Pasuruan yakni Menak Supethak, bersama sisa-sisa pasukannya yang sempat dikalahkan oleh laskar Demak.
"Kekuatan pemberontak merebut Sengguruh, saat itu bertambah dengan tambahan dukungan Adipati Dengkol, anak Menak Supethak, Adipati Panjer (Nila Suwarna) dan Adipati Srengat ikut bergabung mengobarkan pembrontakan. Pertempuran pun pecah di Sengguruh," jelasnya.
Dalam pertempuran sengit, Adipati Sengguruh terdesak mundur meninggalkan kedaton beserta sisa-sisa prajuritnya yang setia. Hilir sungai Brantas akhirnya menjadi basis pertahanan terakhirnya. Pasukan Demak yang saat itu kembali melakukan ekspansi ke Jawa Timur berhasil membantu pasukan Sengguruh untuk merebut ibukota Sengguruh pada tahun 1546 M. Raden Pramana yang bertempur mati-matian bersama para sentananya akhirnya kalah dan lari ke timur.

Berita Lainnya :