Candi Hindu Berlambang Lingga Yoni


Candi Badut berdiri di atas tanah seluas 50 m x 50 meter di Desa Badut, Desa Karangwidoro Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Berdasarkan dari peninggalan yang masih ada hingga kini yakni berupa lingga yoni maka dapat dipastikan bahwa candi tersebut merupakan candi Hindu.
Dimana Lingga Yoni terdiri dari dua simbol yaitu Lingga yang menyerupai alat kelamin laki-laki berbentuk Phallus lambang kesuburan dan dalam perkembangan Hindu adalah simbol Dewa Siwa. Sedangkan Yoni melambangkan alat kelamin perempuan, lambang kesuburan pada masa pra sejahtera. Pada masa perkembangan Hindu Yoni merupakan simbol dari Dewi Parwati istri dari Dewa Siwa.
"Oleh sebab itu pemujaan akan lingga dan yoni merupakan bersatunya Dewa Siwa dan Dewi Parwati sebagai suatu berkah bagi masyarakat masa lampau, sehingga biasanya lingga-yoni ini diletakkan di wilayah pertanian atau pemujaan para petani kala itu," urai Juru Kunci Candi Badut, Minarif.
Lebih lanjut, simbol Lingga Yoni berada di dalam candi utama dengan bentuk yang masih utuh dan dijaga hingga kini. Namun sebenarnya lingga yoni berjumlah lebih dari satu, namun lainnya hanya tinggal Yoni.
Meski masih terjaga hingga kini, namun Candi Badut tidak seperti semula. Tinggi candi utama dulunya 16 meter namun sekarang tinggal 8 meter. Begitupun dengan jumlah candi dahulu terdapat 3 candi pendamping yang berada di depan candi utama.
"Tiga candi itu dua ukurannya sama yakni berada di sisi kanan dan kiri sementara 1 candi berukuran kecil yang berfungsi sebagai pintu masuk, namun 3 candi tersebut sudah runtuh dan sebagai penanda pondasi candi pendamping masih terjaga di sisi kiri yang mayoritas menganggapnya sebagai kolam renang Raja Gajayana," terangnya.
Semenjak dikelola oleh pemerintah,Candi Badut dibuka untuk umum mulai pukul 08.00 WIB sampai 15.30 WIB setiap harinya. Sejak saat itulah candi ini tidak boleh difungsikan sebagaimana mestinya dan dapat digunakan untuk perayaan tertentu seperti selamatan desa dan hari raya Nyepi.
Dalam satu tahun sekali selaku ada dua kegiatan yang dilakukan di Candi Badut. Pertama,difungsikan oleh warga setempat untuk menyelenggarakan selamatan desa dengan membawa hasil bumi, berdoa dan makan bersama. Kedua, digunakan oleh umat Hindu Malang Raya dalam melaksanakan upacara Ngembak Geni.
"Untuk melestarikan peninggalan zaman kerajaan ini setiap hari selalu dilakukan perawatan, bahkan reruntuhan batu candi masih berjejer di depan candi utama untuk menjaga keaslian dari prasasti tersebut. Sangat disayangkan beberapa pengunjung tidak ikut menjaganya dengan baik beberapa dinding candi bahkan dicoret dengan ukiran nama," pungkasnya. (lin/oci)

Berita Lainnya :