Coban Jodo , Surga Tersembunyi di Jabung


Lelah? Pasti! Indah? Sangat! Kalau anda tidak percaya, silakan coba rasakan sendiri sensasinya. Itulah gambaran perjalanan menuju Coban Jodo, surge tersembunyi di Kecamatan Jabung.
Perjalanan menuju coban Jodo ibarat perjalanan mencari sebuah harta karun terpendam. Jalannya sempit, terjal, licin, basah, berbatu, susur sungai adalah hal-hal yang harus dilalui untuk sampai ke Coban Jodo. Namun semua rasa lelah itu akan hilang seketika saat keindahan coban sudah ada di depan mata. Memanjakan mata dan membuat takjub.
Karena salah satu tempat wisata yang berada di Dusun Bendolawang, Desa Ngadirejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang ini baru dibuka menjadi tempat wisata akhir 2016 lalu, akses menuju coban masih sangat asri. Begitu juga dengan trek yang ekstrim menjadi tantangan tersendiri pagi pecinta trek berat.
Perjalanan dan pengamalan plesir tak terlupakan di salah satu destinasi Kabupaten Malang itu diceritakan dengan seru oleh Gunawan dan Firdaus Zetira. Mereka adalah teman dekat asal Malang yang suka menghabiskan waktu liburnya untuk mengarungi keindahan alam serta mengabadikan beberapa momen plesirnya.
Dijelaskan Gunawan, untuk menuju ke lokasi tempat wisata Coban Jodo, ia harus berjalan dari tempat parkir sekitar 1,5 km. “Memang cukup jauh dan perjalanan bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 60 menit. Itu waktu normal tanpa banyak istirahat atau sering-sering berhenti untuk memotret,” ujar Gunawan kepada Malang Post.
Awal perjalanan, lanjutnya, pengunjung akan menyusuri jalan menurun dengan kemiringan sekitar 45 derajat. Dimana jalan setapak sempit yang harus diarungi menyuguhkan pemandangan alam yang asri. “Di sisi kiri kanan jalan setapak kita akan disuguhi ladang kubis milik warga yang segar. Dan pastikan pasang telinga dengan baik, karena di awal perjalanan kita sudah bisa mendengar suara deburan air terjun. Jika tidak, kemungkinan besar anda salah jalan,” bebernya sembari tersenyum.
Lebih lanjut diceritakan oleh pegiat literasi ini, jalan setapak yang dilalui akan semakin ekstrim dan menurun. Sehingga pengunjung akan merasakan sensasi jalan yang semula bertanah empuk, berganti dengan trek tanah keras yang lumayan licin. Jika hujan turun, ia juga menghimbau sebaiknya perjalanan ditunda dulu, karena sangat rawan terpeleset.
“Dari seluruh perjalanan, trek menurun akan dilalui sekitar 20 menit. Meski hanya dalam hitungan menit, bersiaplah baju mulai basah karena keringat yang mengucur deras. Namun semua itu terbalas setelah bertemu dengan aliran sungai yang akan menyapa kita,” ingatnya. Diungkapnya, air sungai yang jernih dan dingin akan membuat gerah segera berlalu.
Setelah menemui sungai, ia memberi saran jika setiap pengunjung harus berhati-hati. Pasalnya untuk menuju Coban Jodo, pengunjung harus menyisir sungai selebar tujuh meter dengan kedamalan 45 cm dengan melawan arus. “Setelah menyisir sungai kira-kira 150 langkah, kita nanti akan menemui tangga naik dan kemudian bertemu dengan sungaiyang sama hingga empat kali,” urai laki-laki yang juga suka dengan fotografi ini.
Pada puncaknya, setelah melalui sungai yang keempat, diungkapkan alumni Ilmu Komunikasi UMM ini, pengunjung sudah bisa melihat keindahan Coban Jodo yang tinggi sekitar 150 meter. “Saat di lokasi itu, kita akan melihat keindahan seperti sebuah menara yang mengerucut tinggi ke atas. Untuk menikmatinya kita juga bisa memandang dua coban yang bersebelahan dari beberapa titik dan menikmati kesegaran air dari Coban Jodo,” tandasnya.

Berita Terkait

Berita Lainnya :