Delapan Sekolah Cikal Bakal Malang Kota Pendidikan


MALANG - Julukan sebagai kota pendidikan untuk Kota Malang ternyata sudah berlaku sejak zaman Hindia Belanda. Pada masa tersebut, puluhan sekolah sudah berdiri kokoh di segala penjuru Kota Malang. Bahkan, sampai saat ini, masih ada beberapa sekolah tua yang masih kokoh berdiri.
Dalam buku berjudul Malang Tempo Doeloe karya Dukut Imam Widodo, pengembangan kota pendidikan tersebut dibangun sekitar tahun 1914. Mulanya, Kota Malang hanya terdiri dari delapan sekolah saja. Diantaranya satu MULO (sekolah lanjutan atau setingkat SMP), tiga ELS (Sekolah dasar dengan sistem Eropa), satu HCS (Sekolah dasar khusus etnis tionghoa) dan tiga Inlands Scholen der 2e Klasse (Sekolah dasar pribumi atau biasa disebut sekolah ongko loro).
Seiring berjalannya waktu, sekitar tahun 1930 sampai 1934, jumlah sekolah terus bertambah, hingga mencapai puluhan. Sebab, jumlah warga terus bertambah dan perekonomian juga meningkat pesat.
Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang, Agung H Buana mengungkapkan,sampai saat ini, ada beberapa sekolah tertua di Kota Malang yang masih sangat ikonik. Bahkan, tak sedikit yang sudah dicanangkan sebagai cagar budaya.
“Sekolah tersebut merupakan kompleks SMA Tugu (SMAN 1, 3 dan 4), Santo Yusuf, Cor Jesu hingga Frateran, SD dan SMPK Sang Timur, SMAK Dempo, SMK Bina Cendikia YP dan SMK Petra YPK,” terang dia.
Untuk kompleks sekolah SMA Tugu, dulunya dibangun pada tahun 1931 di dekat kawasan Alun-Alun Bunder (saat ini merupakan Alun-Alun Tugu). Dulunya, sekolah tersebut diberi nama AMS (Algemeene Middlebare School), yakni sekolah menengah untuk umum dan HBS (Hoorgere Burger School) yang merupakan sekolah menengah untuk warga Belanda. “Bangunan tersebut memiliki ciri khas bangunan Belanda. Sampai saat ini, nuansa kolonial masih sangat terasa di sekolah tersebut,” kata dia.
Namun, pada saat masa pendudukan Jepang, sekolah Tugu sempat menjadi iterniran bagi warga keturunan Belanda. Bahkan, di beberapa bagian gedung sempat menjadi tempat penyiksaan bagi tahanan Belanda oleh tentara Jepang. Di lantainya masih terdapat bekas-bekas tersebut.
“Dia aula, juga terdapat ruang bawah tanah yang berfungsi sebagai sirkulasi udara dan sistem akustik ruangan,” kata Agung.

Berita Lainnya :