Gereja Katedral Ijen


Gereja Katolik Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel (Katedral Ijen) berdiri 84 tahun lamanya di Kota Malang. Dahulunya Gereja Ijen ini menjadi gereja di tengah pemukiman warga Belanda.
Agung kembali menjelaskan jika gereja ini mulai dibangun pada 11 Februari 1934 dan diresmikan pada tanggal 28 Oktober 1934 dengan nama Theresiakerk atau Gereja Santa Theresia.
“Arsiteknya yang berasal dari Belanda bernama Rijksen en Estourgie, mempercayakan pembangunan gereja ini pada perusahaan pemborong bernama NV Bouwundig Buerau Siten en Louzada,” jelas Agung.
Letak bangunan gereja ini berada di depan Boeringplein (Taman Boering) sehingga terdapat ruang luar yang cukup besar di depan gereja tersebut. Sayang sekarang ruang luar di depan gereja tersebut makin sempit, sehingga kesan monumental gerejanya terasa berkurang.
Kawasan Jalan Ijen di mana katedral ini berdiri dulunya merupakan pusat pemukiman warga Belanda seperti yang tampak dari peninggalan-peninggalan kuno berupa rumah berarsitektur kolonial di sekitar jalan ini.
Awalnya gereja ini bernama Theresiakerk atau Gereja Santa Theresia. Baru pada tahun 1961, gereja ini berganti nama menjadi Gereja Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel. Gereja ini pernah direnovasi pada 27 Juli 2002.
“Gereja Ijen ini merupakan perwujudan arsitektur Neo-Gothik khas Belanda, sehingga merupakan peninggalan kuno bersejarah” paparnya.
Bangunan ini juga mendapat sebutan sebagai arsitektur bergaya Neo-Gotik Belanda. Gaya arsitektur itu disebut Neo-Gothik karena merupakan pengaruh dari gaya Gothik. Pada arsitektur gaya Gothik yang asli, langit-langit bangunan dibuat dari batu alam dan merupakan kesatuan konstruksi sebagai penyangga atap.
Sementara itu Ruang Altar menempati bagian atas batang salib. Arah bangunan dari persegi panjang diletakkan pada sumbu timur-barat untuk mengurangi terik matahari langsung (ica/oci)