Habiskan Waktu 1,5 Jam Snorkeling

 
BIRU laut pantai Karimun Jawa mewarnai deburan ombak laut utara. Debora Ayuningtyas bersama dua saudara kandungnya, tak ingin melewatkan keindahan laut dalam di gugus pulau di sisi utara pulau Jawa itu. 
Snorkeling sembari melihat terumbu karang dan biota laut Karimun Jawa membuat perjalanan jauh dan melelahkan, terbayar lunas. “Setelah menikmati wisata penangkaran hiu, kita snorkeling,” katanya.
“Buat aku dan saudaraku yang sudah kesekian kalinya snorkeling, langsung nyebur ke laut sesukanya. Dan memang bagus sekali keadaan dalam laut itu. Karangnya bagus. Ikannya banyak,” kata customer service Malang Town Square (Matos) ini.
Karimunjawa adalah kepulauan di laut Jawa yang masuk dalam Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Ekosistem lautnya, termasuk jajaran terumbu karang, menjadi berlian di laut utara Jawa. Tak heran, Debora rela jauh-jauh datang untuk menikmati keindahan biota laut.
Dengan luas daratan 1.500 hektar dan perairan 110.000 hektar, Karimunjawa adalah taman nasional. Karimunjawa, rumah bagi terumbu karang, hutan bakau, hutan pantai, serta habitat bagi 400 spesies laut, di antaranya 242 jenis ikan hias. 
Fauna darat yang langka juga ada di Karimunjawa, seperti elang laut dada putih, penyu sisik dan penyu hijau yang dilindungi. “Tapi, karena kita ke sana waktu cuaca kurang bagus, jadi pemandangan dalem laut jadi kurang jernih kalo difoto. Bagusnya ya diliat langsung,” sambung Debora.
Anak ketiga dari empat bersaudara itu, menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam bersnorkeling. Destinasi terakhir mereka, adalah pantai Tanjung Gelam yang harus didatangi dengan kapal. Pemandangan pertama yang dilihat oleh Debora saat mendatangi pantai ini, adalah dinding batu karang.
“Batu karangnya besar-besar banget. Terus ada ikon di sana, pohon kelapa yang miring ke arah laut. Di pantai Tanjung gelam terhitung ramai waktu itu. Jadi di sana kita makan sambil duduk di pinggir pantai. Kita juga sempat ambil foto Tanjung Gelam dari atas pakai drone,” tambah Debora.
Setelah menikmati Tanjung Gelam, mereka bebas jalan-jalan di malam hari. Karimunjawa, lanjut Debora, lebih mirip dengan perkampungan kecil yang mencampur wisatawan lokal dan mancanegara. “Di sana resort yang bagus, masih bisa dihitung dengan jari,” tutupnya. (fin/mar)
 

Berita Terkait

Berita Lainnya :