Jejak Heroik di Monumen Kota


Salah satu contohnya Monumen Pahlawan TRIP yang terletak di Jalan Pahlawan Trip, Kota Malang.Selain itu Monumen Tentara Genie Pelajar (TGP) di Jalan Semeru, tepat di depan pintu timur Stadion Gajayana.
Monumen Pahlawan Trip untuk mengenang dan menghargai perjuangan pahlawan muda Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) di Malang yang gugur dalam perang melawan penjajah.
"Pada masa itu semua anggota TRIP berusaha menahan Belanda di perbatasan. Pertempuran berlangsung selama lima jam, sebelum baku tembak terjadi seluruh Kota Malang yang memiliki gedung bagian vital telah di bumi hanguskan oleh gerilyawan dan TGP," kata Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang, Agung Buana.
Strategi tersebut dilakukan agar Belanda tidak mendapatkan apapun jika berhasil menduduki Kota Malang. "Akhirnya dalam pertempuran tersebut, terdapat 35 Pahlawan TRIP yang gugur dan dikuburkan dalam satu liang lahat di dekat markas TRIP," jelas Agung.
Dari catatan sejarah, peristiwa itu terjadi pada 31 Juli 1947.  Kala itu, pasukan Belanda mulai menyerbu Kota Malang dengan kendaraan berat dan persenjataan lengkap. Pasukan Belanda cukup mudah memasuki Kota Malang sebab kota ini telah dikosongkan oleh Komando Divisi Untung Suropati.
Akan tetapi, Malang yang telah dibakar dan dikosongkan tak berarti pasukan Belanda bisa mendudukinya tanpa perlawanan dari rakyat. Perlawanan sengit terjadi sejak masuk sisi utara Kabupaten Malang, sepanjang jalan raya Lawang, tank-tank musuh dihadang dengan berbagai rintangan. Belanda dihujani senapan mesin oleh pejuang Indonesia dan dan berbagai laskar. Pertempuran penghadangan tentara Belanda juga terjadi di Singosari di mana empat prajurit Belanda menjadi korban jebakan bom.
Di dalam kota, pasukan TRIP telah bersiaga menghadang pasukan Belanda. Sampai di Lapangan Pacuan Kuda, Jalan Salak (sekarang Jalan Pahlawan TRIP), terjadi tembak menembak antara pasukan TRIP dan Belanda.
Pertempuran yang dilancarkan pasukan TRIP tak imbang. Pada saat itu, tentara Belanda menggunakan persenjataan lengkap juga memobilisasi tank. Sementara para pejuang TRIP, hanya memakai senjata seadanya.
Dengan sadis tentara Belanda menabrakkan dan melindas kerumunan tentara TRIP sampai mereka tewas dengan sebuah tank. Para tentara pelajar itu gugur dan beberapa lainnya luka-luka tertawan termasuk komandan kompi. Komandan Batalyon 5000, Soesanto, tertembak di tempat terpisah di Jalan Ijen.
 Karena Agresi Belanda ini maka Pusat Komando TRIP berpindah ke Gabru, Kediri dan Madiun. Markas Komando Pusat TRIP berkedudukan di Gabru, Markas Komando I (gabungan dari Batalyon 1000 dan Batalyon 2000) berkedudukan di Madiun sedangkan Markas Komando II berasal dari Batalyon 3000 di Kediri.