Jejak Misi “Gospel” Kolonial Belanda di Malang


ZAMAN penjajahan memang kerap dikaitkan dengan 3 misi, Glory, Gold dan Gospel. Kedatangan Belanda menjajah ke Indonesia selain untuk meraup kekayaan alam, juga menyebarkan ajaran agamanya. Gospel yang berarti penyebarluasan pengajaran agama Nasrani khususnya Kristen pada daerah luar yang termasuk dalam wilayah kekuasannya.
Kota Malang pun memiliki jejak misi “Gospel” itu tersebar dan masih dilihat hingga saat ini. Salah satunya peninggalan tempat ibadah hingga institusi pendidikan dengan berbagai gaya arsitektur Eropanya dan juga berbagai latar sejarah yang menarik memperkaya nuansa “Heritage” Kota Malang.
Tempat-tempat tersebut pun saat ini terletak di beberapa kawasan strategis Kota Malang di pusat kota. Dua tempat ibadah yakni GPIB Immanuel dan Gereja Hati Kudus Kayutangan berada di satu kompleks di kawasan Alun-Alun Kota Malang.
Dan satu lagi berada kawasan pemukiman penduduk elit Belanda di Kota Malang yakni Ijen dengan Gereja Katedral Ijen. Dan beberapa institusi pendidikan seperti Sekolah Cor Jesu dan Frateran Malang. Kesemuanya dibawa Belanda untuk menanamkan keyakinan mereka di kalangan pribumi.
Jejak sejarah ini diceritakan Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya Agung H Bhuana belum lama ini kepada Malang Post. Berikut laporannya!

Gereja Kayutangan
Pada zaman kolonial, terdapat dua gereja Katolik yang besar di Kota Malang. Yang tertua adalah Gereja Hati Kudus di Jalan Kayutangan (sekarang Basuki Rahmat) yang didirikan pada tahun 1905.
Dari kejauhan Gereja Kayutangan menjadi penanda Kota Malang, terutama dengan dua menaranya yang menjulang. Tak hanya menjadi gereja tertua dan bersejarah di Kota Malang, gereja ini memiliki gaya arsitektur yang berbeda dan sangat unik, yaitu bergaya gothic.

Berita Lainnya :