Mall Sarinah dan Kisah Bung Karno


Gedung Sarinah Malang awalnya merupakan rumah Bupati Malang pertama (Raden Tumenggung Notodiningrat 1820-1839). Setelah dikuasai belanda pada awal 1850 an, gedung Rumah Bupati Malang ini diubah menjadi gedung Societiet Concordia atau Gedung Rakyat.
“Masa itu gedung ini menjadi tempat berkumpul, berdansa, menonton pertunjukan kesenian dan makan malam bagi warga Belanda. Setelah merdeka gedung ini menjadi tempat kongres KNIP pada bulan Maret tahun 1947,” jelas Agung.
Kongres tersebut terpaksa dialihkan ke Malang karena keadaan di Kota Jakarta tengah genting. Banyak tokoh besar yang menghadiri kongres ini, salah satunya Presiden pertama Ir. Soekarno, Drs Moh Hatta, Bung Tomo, Ki Hajar Dewantara, Setiabudi, Dr. Syahrir dan lainnya yang membahas tentang system parlemen sebagai cikal bakal DPR RI.
Setelah 4 bulan kemudian tepatnya pada 31 Juli 1947, Belanda melakukan agresi militer ke Malang yang berakibat gerilyawan pejuang membumihanguskan gedung itu.
Gedung ini berada di perempatan merdeka utara dan jalan Basuki Rahmat atau berada di ujung barat utara alun-alun kota Malang, sempat dijadikan tempat pergerakan rakyat pada tahun 1960an, dan akhirnya dibangun Sarinah sebagai pusat perbelanjaan modern pertama di Kota Malang pada 1970, Gedung Sarinah menjadi satu kesatuan dari struktur tata ruang kota.
Seperti sejarah diatas, sebelum era 60-an gedung ini memiliki gaya arsitektur Indische Empire, dengan pilar-pilar yang menyerupai bangunan yunani kuno.
Gedung ini pun menjadi saksi bisu yang telah hilang. Penamaan Sarinah untuk gedung baru ini ternyata tak sembarangan. Sebenarnya nama Sarinah adalah sosok wanita yang memiliki kedekatan dengan Ir. Soekarno Presiden Pertama RI.
“Konon Sarinah adalah pengasuh Soekarno saat tinggal di Tulungangung. Sembari mengasuh Soekarno kecil, Sarinah seringkali menyelipkan nasihat yang kemudian menjadi landasan pemikiran Soekarno terutama tentang pentingnya peran perempuan dalam pergerakan kemerdekaan,” tambah Agung yang juga anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang ini.
Penghargaan terhadap Sarinah kemudian diabadikan menjadi sebuah nama pusat perbelanjaan modern yang digagas oleh Soekarno sendiri. Pada Juli 2010, Sarinah Malang menjalani re-opening, setelah direnovasi.
Toko Avia Pusat Belanja Terlengkap
Toko Avia adalah salah satu toko yang mempunyai nilai sejarah pada masa kolonial Belanda. Toko ini terletak di di Jalan Jaksa Agung Suprapto No 1B Kelurahan Oro-oro Dowo, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Lokasi toko berada di depan pertigaan ujung Jalan Basuki Rahmat Kayutangan dan BS Slamet Riyadi Oro-oro Dowo dan tak jauh dari PT PLN Persero Area Malang. Toko ini adalah toko yang pada masa pemerintahan Hindia-Belanda pada tahun 1930. Pusat perbelanjaan tersebut diberi nama ‘Lux’ (winkelcomplex ‘Lux’). Di dalam kompleks pusat perbelanjaan tersebut, dulunya banyak toko yang menempati, seperti Toko Semarang yang kemudian berubah menjadi Toko Avia.
“Karena lokasinya yang strategis pada waktu itu, Toko Avia (dulu masih bernama Toko Semarang) menjadi salah satu jujukan bagi orang-orang Eropa untuk berbelanja. Kebetulan, lokasi yang pas berada di pertigaan di Kayutangan tersebut merupakan tempat pemberhentian dan berkumpulnya tentara Belanda,” jelas Agung.
Mereka, tentara Belanda, pada umumnya mengisi bekal dengan berbelanja di pusat perbelanjaan atau pertokoan ini Lokasi yang pas berada di pertigaan di Kayutangan tersebut merupakan tempat pemberhentian dan berkumpulnya tentara Belanda. Mereka pada umumnya mengisi bekal dengan berbelanja di pusat perbelanjaan atau pertokoan ini.
Ketika masa pendudukan Jepang, toko ini masih tetap buka. Hanya saja, pembeli yang datang bukanlah dari kalangan orang Eropa melainkan para serdadu Jepang. Karena toko ini termasuk lengkap pada masa penjajahan dikala itu.
“Bangunan Avia mempunyai ciri bangunan indies dengan desain unik karena berada di simpang Jalan dan berbentuk melengkung seperti setengah lingkaran. Dan desainnya tidak ada perubahan untuk exterior tapi ada sedikit perubahan pada interior,” pungkas Agung.(*/mp)