Melongok Kejayaan Emas Hitam di Kota Batu


BATU – Kalau saja kejayaan kopi tak padam, Kota Batu bisa jadi tak identik dengan apel. Tapi khas sebagai penghasil kopi. Apel baru ditanam warga batu pada tahun 90-an, namun, kopi sudah dibudidayakan pada sekitar tahun 70-an.
Hal itu diungkapkan oleh budayawan Kota Batu, Didik Mintardjo. Menurutnya, pertanian kopi ada sejak zaman penjajahan Belanda. Sejarah itu dituturkan oleh sesepuh Kota Batu.
"Perkebunan kopi di Batu sudah ada sejak penjajahan Belanda. Untuk tahunnya, sekitar 1730 dan masih bisa diperdebatkan dengan merujuk dari berbagai literatur sejarah," ujar Didik kepada Malang Post.  
Perkebunan kopi ini tumbuh subur seiring masa kejayaan VOC. Persekutuan dagang asal Belanda yang memiliki monopoli untuk aktivitas perdagangan di Asia. Tak terkecuali di Indonesia, khususnya di Kota Batu. Kolonialisme yang dibawa oleh Belanda di Indonesia memiliki dampak di bidang perkebunan atau hasil pertanian di Kota Batu pada khususnya. Terlepas dari penjajahan yag dilakukan oleh Belanda melalui tanam paksa. Belanda membawa pertanian atau perkebunan kopi ke Kota Batu. Tak hanya Kota Batu, tapi juga di berbagai daerah di Indonesia saat itu. Pasalnya, pertanian kopi sangat menguntungkan VOC saat itu.
Lebih lanjut, ia menceritakan dulunya perkebunan kopi di Kota Batu masih ada sekitar tahun 1960an. Tepatnya di wilayah Kusuma Agrowisata atau lereng Panderman hingga wilayah Jatim Park 2 atau museum satwa. Bahkan di wilayah yang saat ini dikenal dengan Oro-Oro Ombo atau Jalur Lintas Barat (Jalibar.red) Batu.
"Selain itu, kebun kopi juga tersebar di Tlekung, Pesanggrahan, Songgokerto, Punten, Junggo, Arjuno, Sumbergondo, Bulukerto, hingga Giripurno,” bebernya.
Saat itu pula, lanjut dia, kopi menjadi pertanian monokultur. Sedangkan saat ini kopi menjadi pertanian tumpang sari.
“Semakin tahun, lahan pertanian kopi semakin menyusut," bebernya.
Sebenarnya, menurut dia, pertanian apel yang menjadi identitas Kota Batu, menurutnya masih tergolong masih baru. Karena pertanian apel digalakkan pada tahun 1960an. Yang bisa diartikan baru dibudidayakan skala besar atau masif pada tahun tersebut.
"Berbeda dengan kopi, apel baru dibudidayakan sejak tahun 60an. Meski sebelum dibudidayakan, apel sudah ada di Kota Batu di tiap pekarangan," tutupnya. (eri/oci)