Menapakkan Kaki di Nepal


Malang Post,
Anton Ardi, seorang petualang yang hobi keliling dunia, kali ini membagikan kisahnya ketika mengunjungi negara Nepal. Ketika berkunjung ke negara ini, Anton sempat membayangkan untuk menaiki puncak tertinggi di dunia, yakni Himalaya. Selain itu, ia juga ingin menjajaki jalur treking yang usiany sudah berpuluh-puluh tahun, namanya Annapura Base Camp (ABC). Luar biasanya, Anton melakukan perjalanan panjang ini sendirian.
Kepada Malang Post, Anton menceritakan, ia mengawali perjalanannya dari Jakarta menuju Kuala Lumpur menggunakan pesawat terbang. “Kemudian, ketika sampai di Bandara Kuala Lumpur, saya bermalam di bandara. Karena besok sorenya, saya harus terbang ke Kathmandu,” terang dia kepada Malang Post.
Setelah penantian dan perjalanan panjang tersebut, Anton akhirnya sampai di Tribhuyan International Airport Kathmandu. Bandara tersebut sekaligus sebagai pintu masuk menuju Puncak Himalaya.  Sesampainya di sana, Anton langsung mengisi berkas kedatangan dan permohonan Visa On Arrival.
“Pengurusannya sangat mudah. Hanya menyediakan uang 25 dolar untuk berada di Nepal selama 14 hari, pas foto dan mengisi permohonannya. Dalam waktu sekejap, visa disetujui dan bisa melanjutkan perjalanan lagi,” kata pria yang bekerja di salah stau agensi digital di Jakarta ini.
Setelah itu, Anton berjalan menuju ke pintu keluar bandara. Di sana, ia mencari seorang sopir taksi yang menjemputnya.Sebelumnya, Anton sudah memesan sebuah kamar hotel di Trekkers Home di daerah Thamel, kawasa turis di Khatmandu. Kemudian pemilik hotel menawarkan jemputan dengan membayar 7 dollar saja. “Akhirnya, saya gunakan tawaran tersebut. Sehingga, saya tidak perlu kesulitan mencari angkutan menuju hotel tempat saya menginap,” papar Anton.
Namun, ketika berjalan menuju taksi, Anton merasakan ada hal yang aneh. Ada orang yang mengikuti dirinya dan berpura-pura ramah dengan menanyakan kabar dan negara asalnya. Ia pun hanya membalas seadanya dan sesekali tersenyum. “Saya berpikir dia preman setempat. Benar saja, ketika dia membukakan saya pintu taksi, dia minta uang. Akhirnya saya beri uang satu dollar. Dia akhirnya pergi dan saya melanjutkan perjalanan,” ujar pria berkacamata tersebut.
Setelah melakukan perjalanan selama setengah jam, Anton akhirnya memasuki daerah Thamel. Di sana, jalanan khas Thamel merupkan jalanan sempit berukuran dua mobil dan gedung-gedung bertingkat juga berhimpitan. Tak lama kemudian, sampailah Anton ke Hotel Trekkers Home.
Di hotel tersebut, Anton menginap di sebuah kamar yang terdiri dari kamar tidur bertarif 8 dollar. Dimana setiap satu dollar senilai 105 Rupee Nepal (BPR). “Kamar tersebut juga dilengkapi denga AC, kamar mandi, kipas angin, meja rias, televisi dan lemari pakaian,” ujar Anton.
Keesokan harinya, setelah melepas lelah, Anton kembali melanjutkan petualangannya menuju Pokhara. Yakni sebuah tempat sepi yang konon kabarnya bisa digunakan untuk semedi. Ketika menuju ke sana, dari Kathmandu, Anton naik bus Blue Sky. Perjalanan menuju Pokhara menghabiskan waktu 7 jam.
Selama perjalanan, berbagai pemandangan indah menghiasi di setiap sudut jalan yang dilalui. “Ongkos untuk naik bus ini sekitar 700 NPR. “Bus nya cukup nyaman ditumpangi. Namun, ketika sedang melintas di jalanan, sopirnya ngebut dan jalannya berkelok-kelok,” kata pria berambut kribo ini.
Setelah melewati perjalanan panjang nan berliku, Anton akhirnya sampai juga di Pokhara. Sesampainya di sana, ia kembali menginap di Hotel Lotus Inn, per malam harganya 650 NPR. Malam itu, Anton tidak hanya sekadar beristirahat, namun juga menyiapkan beberapa ‘alat perang’ untuk trekingnya menuju Puncak Himalaya.(tea/lim)

Berita Lainnya :