Mergan Lori dan Jembatan Pelor Oro-oro Dowo


MALANG – Jalur kereta di Mergan Lori dan jembatan Pelor Oro-Oro Dowo menandai era perubahan transportasi masal sekaligus industrialisasi Malang pada era Hindia-Belanda. Pergantian era dari masyarakat tradisional menuju industrialisasi begitu terlihat sejak penjajah memfokuskan penanaman tebu di kawasan Malang Raya sebagai bahan baku komoditi gula.
Kereta api pengangkut muatan tebu atau yang lebih dikenal sebagai lori, juga menyisakan jejak berupa bangunan di kawasan Jalan Oro-Oro Dowo Jembatan Pelor dan Mergan Lori. Agung Buana, Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang mengungkapkan, dua bangunan tersebut, adalah tanda garis transportasi gula.
“Jalur lori itu melintang di area barat Kota Malang, mulai Karanglo, Bantaran, Samaan, Oro-Oro Dowo jembatan Pelor, Jalan Jakarta, Jalan Raya Dieng, Jalan Raya Langsep, Mergan Lori hingga pabrik gula Kebonagung,” kata Agung kepada Malang Post kemarin.
Garis kereta lori inilah yang membuktikan bahwa pertumbuhan Kota Malang pada masa awal 1900-an, tak lepas dari produksi gula.
Pabrik gula Kebonagung dibangun pada 1905, berselang satu tahun dari pembangunan pabrik gula Krebet tahun 1906. Pada masa ini, penjajah Belanda menggetolkan produksi gula sebagai bahan komoditi yang menguntungkan untuk diekspor maupun dikonsumsi secara umum di wilayah koloninya.
Demi mencari keuntungan, penjajah Belanda membangun kebun tebu dan komoditi lainnya di kawasan subur seperti Jawa Timur. Malang dianggap sangat subur dan bisa ditanami kebun tebu untuk menyuplai bahan pembuatan gula dalam kapasitas masif. Buktinya, pabrik gula Kebonagung dan Krebet dibangun dengan jarak yang sangat dekat.
Sebelum perang dunia kedua meletus dan Belanda terusir dari Indonesia, jalur suplai gula di Malang adalah tambang emas bagi penjajah dan para pengusaha. Bahkan, setelah perang kemerdekaan selesai, komoditi gula masih terus bergeliat di Malang karena peninggalan penjajahan Belanda.
Meski demikian, saat ini, jalur lori di jembatan Pelor maupun Mergan Lori, tidak aktif sebagai jalur transportasi. Mergan Lori kini hanya menjadi sebuah besi panjang yang melintang, menjadi pajangan di atas jalan menuju arah Bandulan. Sedangkan, pondasi tua jalur lori Jembatan Pelor, menjadi kawasan padat penduduk.
Jalan jembatan yang melintasi sungai ini menjadi jalan tikus yang banyak dilewati orang dari arah Tawangmangu dan Jalan Bandung sekitar. Lebar jalan hanya cukup untuk dua kendaraan sepeda motor.(fin/lim)