Pahat Cobek dan Ulekan Berbahan Batu


Dusun Rejoso, Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu dikenal sebagai sentra kerajinan tangan peralatan dapur. Produk yang dihasilkan tak hanya terbuat dari bahan dasar kayu, tapi juga beberapa masyarakatnya masih mempertahankan pembuatan peralatan dapur dari bahan dasar batu. Bahkan, teknis pembuatan juga berbeda. Ada yang masih mempertahankan pembuatan tradisional dengan memahat. Sebaliknya juga sudah banyak yang menggunakan mesin.
Salah satunya adalah Teguh Wahyudi (28) dan sang ayah Poniman (60). Mereka berdua melakukan kerja itu secara turun menurun. Mereka adalah yang masih mempertahankan kerajinan tradisional.
"Saya kerja mulai usia 12 tahun. Dulu bantu ayah. Sekarang menurun ke anak saya ini. Bahkan untuk mencari batu, kami berdua mencari ke sungai sekitar Junrejo," beber Poniman kepada Malang Post.
Ia menceritakan lebih lanjut, untuk pengrajin tradisional saat ini tinggal lima orang. Berbeda dengan dulu saat dirinya muda. Poniman mengingat ada sekitar 50 orang yang masih mencari dan mengerjakan atau memahat sendiri.
"Kalau tidak salah ingat, kerajinan membuat peralatan dapur berupa cobek dan ulek-ulek sudah ada sejak tahun 70. Namun untuk peralatan dapur lainnya sekitar tahun 1985an. Itupun dari kayu," bebernya.
Ia mengungkapkan, untuk kerajinan dari bahan dasar batu, dari dulu hingga saat ini tetap bertahan membuat cowek dan ulek. Berbeda dengan bahan dasar kayu yang bisa dengan mudah dikembangkan menjadi berbagai jenis peralatan dapur.
Dalam sehari, untuk satu orang mampu menghasilkan 25-30 ulekan. Sedangkan cobek hanya 6-7 barang. Dengan harga jual Rp 15.000 sampai Rp 100 ribu. Di mana untuk pemasaran dijualnya di lingkup pulau Jawa. (eri/oci)

Berita Lainnya :