Reihat, Negeri Diatas Awan

 
Selain di Kewer, Fulan Fehan menjadi target berikutnya. Taman savanna yang  luas yang menjadi tempat tinggi untuk melihat bulan.  Fulan berarti bulan, sedangkan fehan merupakan daratan. 
Untuk menuju Fulan Fehan harus menyusuri jalan setapak. Memang untuk menuju tempat ini dibutuhkan perjuangan, namun semua akan terbayar dengan suguhan alam yang benar-benar megah. Fulan Fehan merupakan sebuah lembah dari pegunungan Laka'an yang berdiri gagah di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Belu, Atambua.  Lembah yang menyerupai padang savanah ini dihuni oleh kuda kuda liar yang hidup berkelompok. 
“Berhubung saya datang ke Fulan Fehan pada siang hari, sehingga saya tidak bisa menggambarkan keindahan bulan pada malam hari. Dari penuruturan masyarakat lokal, Fulan Fehan adalah tempat yang paling cocok untuk melihat keindahan malam bertabur bintang dan menikmati sinar bulan,” kata Vita.
Hal yang tidak pernah dilupakan ketika melihat kawanan kuda liar sedang berlari gagah. Dari lembah yang tinggi menuju lembah yang lainya, diiringi dengan hentakan kaki kaki kuda yang sangat memanjakan telingga. “Entah kenapa tibatiba saja saya sangat bahagia, melihat kawanan kuda liar tersebut berlari lari bebas di lembah Fulan Fehan ini. Ini sangat jarang ditemukan di Jawa,” tambahnya.
Selain di Fulan Fehan, juga menikmati sunrise di wilayah Kecamatan Reihat, Belu, Atambua. Serasa berada di negeri atas awan, tidak perlu menaiki gunung ataupun bukit untuk merasakan sensasi diatas awan. 
“Pemandangan saya dapatkan sekitar jam 06.00 pagi di Kecamatan Reihat, kecamatan terluar Indonesia yang langsung berbatasan dengan RDTL. Dataran yang diselimuti kabut itu adalah sungai yang memisahkan antara indonesia dan RDTL. Sunguh menggambarkan negeri dongeng,” imbauhnya.
Walaupun daerah perbatasan, namun keharmonisan di perbatasan masih tercium disini. Terbitnya matahari dari Timor seakan bersinergi dengan persaudaraan masyarakat perbatasan. Dimana masing-masing warga negara hidup berdampingan dengan damai. Hal ini ditunjukkan dengan dibukanya pasar perbatasan. 
“Uniknya para pedagang dan pembeli menggunakan tiga bahasa, bahasa Portugis, bahasa Indonesia, dan bahasa adat. Bahasa adat yang digunakan adalah bahasa Bunag, bahasa suku Marae,” urainya.
Bahasa suku ini merupakan bahasa pemersatu, bagi warga dua negara yakni Indonesia dan Timur Leste untuk bertransaksi. “Selain itu, dipasar ini juga menggunakan dua mata uang, yakni dolar dan rupiah. Pasar perbatasan ini hanya buka pada hari sabtu saja. Mayoritas menjual kesenian seperti tenun dan kerajinan lain,” tandasnya. (yun/aim)

Berita Terkait

Berita Lainnya :