Syphon Irigasi Belanda, Peninggalan Bersejarah di Kepanjen


DUA buah pipa panjang dan melengkung melintas di atas sungai Metro, Kepanjen. Tepatnya di Desa Sukun Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang, syphon yang mengalirkan sungai Molek menuju Talangagung itu menjadi jujugan wisatawan. Syphon yang akhirnya dikenal dengan Syphon Metro tersebut dibangun pada masa penjajahan Belanda, tepatnya tahun 1903. Secara bahasa, syphon berarti saluran sungai yang dibangun di bawah permukaan sungai. Namun, khusus Syphon Metro ini justru di bangun di atas Sungai Metro. "Sungai di atas sungai," jelas Ahmad Soleh, penjaga pintu air Sungai Molek.
Tempat tersebut dulunya dibangun untuk mengaliri tanah dan persawahan yang berada di barat sungai Metro. Kebetulan, area tersebut kerap mengalami kekurangan air, sehingga hasil pertanian tidak maksimal.
"Jadi dulu dibangun karena Belanda ingin memaksimalkan potensi pertanian. Dengan adanya aliran air, tentu hasil panenan akan lebih banyak," beber dia kepada Malang Post.
Melintas di atas sungai, menjadikan Syphon tersebut unik. Lengkungan pipa dengan diameter 2 meter tersebut menyerupai huruf U dan berguna mengalirkan air secara otomatis tanpa mengunakan mesin pompa air.
"Dulu mungkin rakyat dipaksa untuk membangun Syphon ini. Tetapi, sampai saat ini sangat mengakomodir air yang berasal dari Sungai Molek," terang dia.
Dia mengatakan, Syphon Metro ini sejatinya tidak hanya melintas di atas Sungai Metro. Sebab, sebelumnya melewati Sungai Sukun, tempat atau daerah awal Siphon tersebut dibangun.
Di sisi timur yang berada di kawasan Desa Sukun, di sisi pertama Syphon tersebut, terdapat prasasti bernama Prasasti Molek,  yang menerangkan bangunan tersebut. Dibangun tahun 1903 dengan panjang 189,75 meter dan pernah direhabilitasi tahun1988.
Syphon Metro ini mampu mengaliri baku sawah seluas 3.029 hektar. Luas baku sawah adalah luas bersih dari suatu daerah irigasi, yang berdasarkan perencanaan teknis dapat diairi oleh jaringan irigasi. Syphon ini memiliki legger D.105 dengan debit 8.000 m³/detik.
Sementara, di area yang kini kerap dikunjungi oleh pemuda yang ingin berolahraga tersebut terdapat pula tugu dengan bentuk pipa atau syphon tadi. Dua pipa, yang menggambarkan di tempat itu terdapat dua syphon yang sangat bermanfaat bagi masyarakat di barat Sungai Metro.
Selain bersejarah, kini tempat tersebut juga menjadi lokasi bersantai atau berwisata. Sekalipun tidak begitu dikenal, namun setiap hari ada saja pengunjung yang hadir.
"Ada yang berfoto-foto, olahraga atau bahkan belajar. Katanya sejuk dengan belajar atau membaca buku di tempat ini," beber Dani Wardana, warga Kepanjen yang berkunjung ke Syphon Metro.
Syphon yang sudah terlihat mulai berkarat di beberapa sisi tersebut memang menawarkan pemandangan yang hijau nan segar. Dengan banyak tumbuhan dan pohon tinggi, tempat ini bisa menjadi lokasi untuk menjauhi kebisingan kota.
"Seperti miniatur hutan belantara. Pagi hari pasti lebih segar, banyak suara burung," tandas dia. (ley/oci)

Berita Lainnya :