Tempat Tinggal Para Kesatria


SENGGURUH adalah nama sebuah desa di Kecamatan Kepanjen. Desa ini, berada paling selatan dan berbatasan dengan Desa Gampingan Kecamatan Pagak. Wilayahnya pun tidak terlalu luas. Dibandingkan dengan desa lain di Kecamatan Kepanjen, Desa Sengguruh memiliki wilayah paling kecil.
Dinamakan Sengguruh, karena memiliki cerita. Dulunya adalah sebuah kerajaan kecil setingkat kadipaten di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Secara tidak langsung, begitu Majapahit mengalami masa keruntuhan, Sengguruhlah yang seolah menjadi penerus tahta.
Dan Pemerintahan Desa Sengguruh ini, mulai ada sejak sekitar tahun 1900. Namun tanggal dan bulan berapa mulai berdiri, tidak ada yang mengetahui. Selain karena tidak ada prasasti, sesepuh masyarakat sekitar juga tidak ada yang tahu.
"Saya sudah mencoba menggali informasi kemana-mana, namun tidak ada yang tahu. Sehingga untuk kegiatan bersih desa atau selamatan desa, biasanya kami gelar pada bulan Suro, lantaran tidak ada yang tahu pasti tanggal dan bulan berdirinya Pemerintahan Desa Sengguruh," terang Kepala Desa Sengguruh Hery Purnomo kepada Malang Post.
Berdasarkan informasi, dulunya Kerajaan Sengguruh yang letaknya di sebelah barat Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang berdiri sebuah tempat berupa pesanggrahan atau tempat peristirahatan bagi tamu pejabat atau kesatria. Daerah Sengguruh sendiri dulu memang menjadi salah satu pusat pendidikan kanuragan dan strategi perang, yang tepatnya berada di daerah Kepanjen.
Disebut demikian karena daerah yang berada empat kilometer di sebelah timur itu merupakan tempat tinggal para kesatria atau panji, sehingga disebut Kepanjian (Kepanjen). Konon, para panji yang tinggal di Kepanjian saat akan ke padepokan untuk belajar ilmu kanuragan, biasanya berujar “Ayo kita ke Sang Guru”. Istilah ini lama-lama berkembang menjadi Sengguruh.
Menurut buku Kandha dan Babad Sangkala, setelah runtuhnya Majapahit, sisa-sisa kekuatannya yang masih menganut agama Hindu di Jawa Timur bagian selatan terkonsentrasi di Kerajaan Sengguruh. Beberapa daerah kekuasaan kerajaan tersebut di masa silam di antaranya adalah Sengguruh, Ngibik, Jenggala, Sumedang, dan Balerejo.
Seorang tentara Belanda bernama Dr. H. J dengan Graaf dan Dr. Th. Pigiaud, dalam Serat Kandha dan Babad Sangkala, menyatakan bahwa setelah pusat pemerintahan Majapahit direbut oleh orang-orang Islam dari Kerajaan Demak, anak laki-laki Patih Majapahit, Raden Pramana, melarikan diri dan bertahan untuk beberapa waktu di daerah pegunungan yang terpencil di Jawa Timur bagian selatan. Termasuk Raden Pramana, juga terpaksa menyingkir karena datangnya pasukan Sultan Demak.

Berita Lainnya :